Cara Jemput Jodoh
Syahdan,
Ahmad: Assalamu'alaikum.
Teh, mohon maaf saya mengganggumu. Begini, saya sengaja kirim pesan ini,
sebab saya yakin Teteh belum nikah, begitu juga saya. Langsung aja Teh,
saya suka dan ingin menikahimu. Mohon maaf ya, kalau kaget. Tapi ini
sungguh, sehati penuh. Silakan jawab ya atau tidak, kalau ada alasannya.
Kalau ya, saya akan menjemput ridha orang tuamu. Kalau tidak, saya
ucapkan terimakasih, semoga kita mendapat jodoh lain yang cocok dan
terbaik. Terimakasih ya. [Teman-teman bisa kirim ini lewat SMS, E-mail, inbox, atau langsung]
Nisa': Wa'alaikumsalam. Aku sambut baik itikadmu. Asalkan kau tahu, itu
jugalah yang ingin aku ungkapkan padamu. Namun, entah harus mulai dari
mana aku mengungkapkannya. Sepertimu, aku juga sepenuh hati mencintaimu.
Aku tunggu kedatanganmu, secepatnya kau jemput ridha orang tuaku.
Semoga ini diberkahi Allah. Aamiin. [Kira-kira jawaban 'diterima' atau 'ya', ya seperti ini]
Nisa': Wa'alaikumsalam. Aku sambut baik itikadmu. Tanpa maksud menolak
apalagi melukaimu, aku ucapkan beribu maaf, aku belum bisa menerima
cintamu. Semoga masing-masing kita mendapat jodoh lain yang terbaik.
Aamiin. [Ini kira-kira, jawaban jika dia menolakmu]
Ahmad: Subhanallah, walhamdulillah, Allah memang mendengar dan
mengabulkan itikad baik kita. Semoga ini berkah. Terimakasih Teh. Saya
siap dan segera akan menjemput ridha orang tuamu. Semoga Allah kembali
berkenan. [Ini respon saat cinta dan itikad baiknya diterima]
Ahmad: Alhamdulillah, terimakasih ya Teh. Setidaknya jawabanmu telah
membuat hati ini lega, meskipun cinta kita tak bertemu. Insya Allah,
jodoh masing-masing kita akan ada yang lain, yang terbaik. Aamiin.
Terimakasih ya. [Ini respon saat itikad menghalalkan cintanya ditolak]
Hehe. Bacanya serius amat! Dialog ini cuma ilustrasi aja teman-teman.
Teman-teman boleh praktikkan. Menurut saya, ini cara menjemput jodoh
yang insya Allah diberkahi Allah.
Eh, ini juga berlaku buat
perempuan ke laki-laki lho ya. Contoh sederhananya adalah saat Siti
Khadijah 'nembak' Nabi Muhammad. Duh, rugi banget kali ya, kalau saat
itu cintanya Siti Khadijah pada Nabi Muhammad dipendem gitu aja.
Untungnya, Siti Khadijah sang pemberani dan perempuan baik hati. Cieee,
akhirnya jadian dan nikahan kan?
Tapi kudu ingat, niatnya nikah bukan pacaran. Awas lho ya! Niatnya
main-main, hasilnya juga ya main-main. Niatnya serius, insya Allah
hasilnya maslahat bagi kita. Ini cuma berlaku bagi teman-teman yang
usianya sudah matang buat nikah. Bagi teman-teman yang masih kuliah,
apalagi sekolah mah, haduh udah lah kuliah dan sekolah dulu aja ya,
hehe.
Saya cuma ingin mencontohkan, dan berhusnuzhan, anggap saja
itikad menghalalkan cinta kita diterima. Naaah, awas jangan bingung!
Besoknya, kalau bisa langsung menuju ke rumah orang tuanya. Karena Ahmad
yang memulai, maka Ahmad harus gentle bertandang menjemput ridha Allah
melalui ridha orang tua bidadarinya. Insya Allah dan saya yakin, orang
tuanya juga ridha.
Saya berdo'a, bagi teman-teman yang mempraktikkan, mudah-mudahan jemput jodohnya dikabulkan. Aamiin.
Ayo, praktikkan! Daripada galau nggak karuan, hehe.
Salam rindu,

0 komentar:
Post a Comment