Ikhtiar Memanusiakan Manusia

Friday, March 21, 2014

Milik Allah

Milik Allah


Isterimu bukanlah milikmu. Dia milik dirinya sendiri yang berdaulat. Kau juga bukan miliknya, kau milikmu sendiri yang berdaulat. Setiap diri memiliki kehendak. Karena itu, setiap diri berhak dimuliakan oleh dirinya sendiri dan oleh yang lain. (KH. Husein Muhammad)

Teman-teman, ada yang mau coba memaknai dawuh Buya Husein di atas? Saya tunggu ya! Tapi perkenankan dulu saya ingin mengawali dan mencoba memaknainya. Sebab dawuh ini begitu dalam, sarat akan makna, dan mencerahkan bagi kita perempuan dan laki-laki.

Berdasarkan dawuh di atas, saya ingin menegaskan bahwa sejatinya perempuan dan laki-laki itu sama-sama manusia mulia, manusia yang diciptakan Allah dalam bentuk yang paling baik (ahsani taqwim). Oleh sebab itu, kedudukan keduanya di mata Allah juga sama mulia. Nah, sementara kemuliaan itu bisa diikhtiarkan dengan kita berlomba dalam kebaikan. Sebanyak dan seikhlas mungkin beramal saleh.

Jadi tidak ada istilah; selamanya laki-laki lebih utama dari perempuan, atau sebaliknya perempuan lebih utama dari laki-laki. Sebab, bisa jadi laki-laki yang hebat atau sebaliknya. Hebat atau tidaknya bergantung pada akhlakul karimah dan amal salehnya.

Begitupun dalam konteks istri-suami. Gini teman-teman, saya kadang merasa geli, kalau ada yang mengatakan bahwa ridha perempuan berpindah dari ibu kandung ke suaminya jika ia sudah menjadi istri seorang laki-laki. Kegelian saya itu terjawab sudah oleh dawuh Buya Husein di atas.

Istri itu bukan milik suami dan suami bukan milik istri. Kita hanyalah milik Allah. Kita hanya diamanahi oleh Allah agar masing-masing kita berbuat baik dan saling menjaga, bukan untuk menindas seperti budak. Ya, seringnya istri yang menjadi budak suami. Seakan suara suami lebih dipatuhi daripada suara Tuhan. Suami menjadi sosok yang kerjanya cuma ngatur-ngatur, salah sedikit ngomel, kurang sedikit aja protes. Hadeuuuh.

Makanya, seyogyanya para laki-laki/suami memahami dawuh Buya Husein di atas. Ingat akad nikah itu bukan akad jual beli, istri dibeli oleh suami dengan mahar. Akibatnya, istri seperti barang belian yang harus nurut diapakan saja oleh pembelinya. Bukan, bukan begitu. Nikah itu komitmen lahir-batin, antara kita dengan orang tua dan Allah. Bahwa masing-masing kita (perempuan dan laki-laki) berikrar untuk seiya-sekata dalam membangun mahligai rumah tangga, apapun risikonya, pahit-manis akan dilalui berdua dan bersama.

Saya berulang kali mengatakan, prinsip yang harus dipedomani adalah 'kesalingan'. Antara perempuan dan laki-laki saling menjaga, meringankan beban, menyenangkan, menghargai, dan menguatkan. Sebab, ada kalanya perempuan itu kuat dan lemah, sebagaimana laki-laki. Kekuatan masing-masing kita jadikan penguat akan masing-masing kelemahan.

Insya Allah, hidup kita indah! Aamiin.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Milik Allah

0 komentar:

Post a Comment