Perempuan Pemimpin Rumah
Tangga?

Tugas suami adalah ‘membimbing’ istri. Seolah-olah
perempuan menjadi ‘bodoh’ ketika ia telah menikah. Sepandai-pandainya perempuan
tetapi setelah menikah ia tetap akan dipimpin oleh suami. Seolah-olah perempuan
itu seperti ‘binatang buas’ yang harus dibimbing, yang harus dijinakkan. Seolah-olah
istri itu akalnya lemah, agamanya kurang, penuh dengan nafsu, tulang rusuknya
bengkok, hanya mengandalkan perasaan. Saya benar-benar gelisah dengan semua
ini.
Allah menciptakan manusia, perempuan maupun
laki-laki sebagai khalifah fil ardl, pemimpin di muka bumi. Manusia yang
diamanahi tugas untuk memimpin, setidaknya untuk memimpin dirinya sendiri, terutama
untuk bisa mengelola ego dan nafsu. Itu artinya, baik perempuan maupun
laki-laki diembani amanah yang sama untuk memenuhi tugasnya dalam memimpin.
Sejak lama, suami itu selalu dianggap pemimpin
di rumah, pemimpin keluarga, pemimpin rumah tangga. Tidak peduli apakah dia
pantas atau tidak untuk menjadi pemimpin, punya kapasitas dan kualitas atau
tidak sebagai pemimpin. Konsekuensinya, istri harus menuruti semua apa kata
suami. Sampai-sampai surga pun ada pada ridha suami. Kalau tidak menuruti apa
kata suami maka balasannya adalah durhaka dan tempatnya pasti neraka.
Sementara itu istri, tidak boleh menjadi
pemimpin. Ada yang mengatakan baik di wilayah publik maupun domestik, perempuan
tidak boleh menjadi pemimpin. Ada yang sedikit longgar, perempuan hanya boleh
menjadi pemimpin di wilayah publik, misalnya menjadi pemimpin perusahaan atau
lembaga; menjadi kepala sekolah, kepala desa, menteri, direktur sampai
presiden, tetapi tidak boleh memimpin rumah tangga dan keluarga.
Pertanyaannya, apakah betul perempuan/istri
tidak boleh turut memimpin rumah tangga dan keluarga bersama suami? Apakah ada
ketentuan mutlak, kalau pemimpin di rumah itu wajib suami? Sehingga ketika ada
istri yang memimpin keluarga hukumnya haram?
Kita harus memahami apa itu budaya patriarkhi.
Budaya yang sejak lama selalu mengunggulkan laki-laki. Tak peduli laki-laki
tersebut punya kualitas diri atau tidak. Seolah-olah otoritas (wewenang,
kekuasaan) kepemimpinan sudah mutlak menjadi milik suami. Sehingga sedikit pun
istri tugasnya hanya nrimo, pasrah, apa kata suami. Lalu apa jadinya
jika otoritas itu disalah-fungsikan menjadi wewenang/kekuasaan yang semau
sendiri, kebablasan dan keliru (otoriter)?
Catatan demi catatan saya tentang kepemimpinan
dalam rumah tangga ini tertuju khususnya untuk para suami yang bermasalah. Jadi,
bagi kalian, pasangan sistri-suami yang sedang tidak punya masalah dalam
kepemimpinan keluarga, catatan ini bisa dijadikan renungan dan upaya
antisipasi. Saya tidak bisa membayangkan, jika sebuah jalinan rumah tangga, dipimpin
oleh suami yang amburadul, alias tidak punya daya untuk memimpin.
Dalam kondisi seperti itulah, istri dalam posisi
yang serba salah. Kalau ia mengambil alih tugas kepemimpinan rumah, maka ia
akan dianggap istri yang durhaka, sementara kalau ia diam saja, rumah tangganya
akan semakin runyam dan tak menentu. Mungkin akan ada sebagian dari kita yang
akan menyarankan, jika ada suami yang kehilangan kontrol dalam kepemimpinannya,
maka istri harus sabar dan ikhlas. Harus memohon petunjuk kepada Allah untuk
mendapatkan kemudahan.
Ya, saya juga dalam posisi yang sama, bahwa
segala sesuatu pasti ada masalah dan tantangan. Saya juga setuju jika kita
diterpa masalah maka kita harus sabar, ikhlas dan memohon petunjuk kepada Allah.
Namun harus kita kuatkan bahwa sabar dan ikhlas itu bukan berarti menjadikan
kita pasif dan berpangku tangan. Sabar dan ikhlas itu bermakna jika kita
berikhtiar lahir dan batin, ada ikhtiar dunia dan akhirat.
Ingat kepemimpinan Rasulullah dalam rumah
tangga, atas bimbingan Allah langsung. Akhlak Rasulullah terjamin, meskipun
sifat-sifat duniawi melekat dalam dirinya sebagaimana kita manusia pada
umumnya. Yang berbeda dari kepemimpinan Rasulullah itu wujud dari sikap jujur
dan rendah hati beliau terhadap istrinya. Walhasil, saya memaknai kepemimpinan
Rasulullah saat di rumah adalah kepemimpinan yang dijalankan secara bersama dengan
istrinya, kepemimpinan yang saling melengkapi, jika istrinya dirasa lebih menguasai
maka beliau tak segan menyerahkan urusannya kepada sang istri. Bukan karena
beliau tidak mampu tetapi karena beliau sangat menghargai istri dan sangat
rendah hati. Beliau juga bukan tipe pemimpin yang maunya hanya dilayani.
Buktinya, Rasulullah adalah pemimpin keluarga yang melayani keperluan
pribadinya sendiri, misalnya memerah susu, menambal sandal, menjahit bajunya
yang robek. Wallahu a’lam.
0 komentar:
Post a Comment