Alhamdulillah, Juara 3
Mamang Muhamad Haerudin
Saya ingin ngenalkan dulu salah satu sekolah, namanya SMK Al-Biruni Ciwaringin. Sekolah ini masih baru, baru ada kelas X dan XI. Siswanya juga belum banyak, otomatis dengan gurunya. Gedung yang ditempati belajar pun masih menumpang, sebab gedung sendiri belum rampung dibangun. Sarana dan prasarana sekolah pun masih minim, jauuuh banget dari lengkap. Jurusannya pun langka yakni tata busana dan tata boga. Sekabupaten SMK dengan jurusan itu cuma ada satu lagi; jumlahnya dua dengan SMK Al-Biruni. Siswanya pun didominasi perempuan. Saya yakin teman-teman bisa bayangin bagaimana suasana sekolahnya.
Sejak awal 2013 kemarin, saya diajak Kepsek-nya untuk ikut bantu-bantu. Tanpa terlalu banyak mikir, saya mengiyakan. Insya Allah semampu saya. Bulu kuduk langsung merinding, teman-teman! Sebab, mengabdikan diri di sebuah sekolah yang jauh dari bonafide itu sudah pasti 'berdarah-darah'. Tetapi memang saya ingin berdarah-darah. Duh, apalagi kalau sudah bicara soal honor, ngelus dada deh! Apalagi beberapa Bapak-Ibu gurunya yang sudah banyak anak. Glek!
Perbaikan demi perbaikan terus dilakukan. Demi kemajuan. Salah satunya, pekan kemarin, tepatnya hari Sabtu, 1 Februari 2014, saya memberanikan diri untuk mengajak siswa-siswi supaya ikut lomba memasak. Saya dapat info dari salah seorang teman, langsung saya kabarkan ke Kepsek, setuju, dan koordinasi dengan siswa-siswa. Alhamdulillah, disambut baik kabar ini.
Beberapa hari menjelang pelaksanaan, 'kedepak-kedepuk' makin terlihat. Mental para siswa mulai down, kebanyakan mereka khawatir; masakannya nggak enak, malu-maluin, de el el. Masalah terus datang, dari susahnya siapa yang siap jadi peserta, beli bahan-bahan, milih menu masakan, dll. Meskipun beberapa hari masih sempat latihan, tapi mental para siswa makin melemah. Banyak di antara mereka yang bilang supaya menyerah. Putus asa dan lelah, katanya. Sehari sebelum pelaksanaan, bahan-bahan masakan belum belanja. Belanja pun akhirnya mendadak.
Dalam situasi seperti ini, saya selalu ingin menjadi diri yang tenang dan tidak grasah-grusuh. Selalu menampilkan wajah ceria. Kata-kata motivatif dan optimistik. Berhari-hari terlibat kontak-kontakan dengan mereka (para siswi), ribut inilah-itulah, nyerah, putus asa, dan sejenisnya. Saya cuma bisa terus menguatkan mereka. Kita pasti bisa, kita pasti bisa! Tugas kita tampil saja. Ayo semangat!
Pagi Sabtu, 1 Februari, sekitar 30 puluhan siswa siap mendukung. Bahan masak belum siap, perlengkapan masak juga, ongkos untuk ke sana juga dikeluhkan. Akhirnya, ada sedikit uang kas dan uang saku dari saya, alhamdulillah digabungkan, mereka berangkat. Beberapa guru ikut mengantar naik sepeda motor termasuk saya. Kebanyakan siswa naik kendaraan umum. Beberapa siswa laki-laki bantu membawakan peralatan masak di sepeda motor. Jarak sekolah dengan lokasi lomba lumayan jauh, menempuh perjalanan kurang lebih satu jam.
Beberapa peserta dari sekolah lain, sudah tampak. Sama-sama saling menyiapkan. Saat pelaksanaan lomba memasak, alhamdulillah nggak ada kendala. Tim SMK Al-Biruni bisa selesai tepat waktu. Saat penjurian, subhanallah, performa sekolah-sekolah lain begitu sempurna. Mulai dari kostum, alat masak lengkap, penyajian yang menawan. Pada sesi perkenalan, sekolah mereka sudah terbiasa juara di berbagai tingkatan. Lha, SMK Al-Biruni bagaimana? Belum pernah ikut sama sekali, apalagi jadi juara. Karena ini saja ikut serta perdana. Jadi teman-teman bisa bayangkan, situasinya bagaimana? Sekolah baru dengan penuh keterbatasan.
Tapi, saya tetap yakin dalam hati. Allah punya 'sesuatu' buat kita. Dan alhamdulillah, para siswi SMK Al-Biruni mendapat juara 3; mendapat tropi dan uang pembinaan. Dan ini tropi pertama untuk mengharumkan almamater. Saya bilang ke mereka, "Kalian memang para perempuan hebat, tapi harus terus memperbaiki kekurangan. Mari kita rayakan kemenangan!"
0 komentar:
Post a Comment