Ikhtiar Memanusiakan Manusia

Tuesday, February 11, 2014

Ibu Pembaca Buku Saya Yang Hebat

Ibu Pembaca Buku Saya Yang Hebat

Muhamad Mamang Haerudin


Beberapa menit yang lalu, ada SMS masuk ke HP saya, begini:

"Assalamu'alaikum. Pak Mamang, alhamdulillah setelah saya baca buku 'CERMIN HATI': Satu Akhlak al-Karimah, Sejuta Hikmah', subhanallah, seperti kejadian pada umumnya ya, saya sendiri saja baru senang membaca sebelum bulan puasa, isnya Allah saya bisa belajar dari buku, nikmatnya sungguh indah ya Pak."

"Aamiin ... Iya Pak Mamang, saya Ibu Fitri, sedikit cerita pada diri saya, selama 14 tahun jadi janda, susah yang namanya bersyukur atas nikmatnya, setelah terpuruk, terhina, terpojok, Allahu Akbar indah saat berdo'a dan bersyukur. Saya tunggu buku-buku Bapak berikutnya."

"Nanti akan saya ceritakan sedikit tentang kehidupan saya, saya pernah marah sama Tuhan, malam itu saya terpukul mau bunuh diri, tapi kepala yang saya benturkan hanya bengkak dan lebam saja, tapi besoknya Allahu Akbar Pak, dapat kerjaan, saya lalu diberikan nikmat berlebih. Subhanallah, sujud saya minta ampun, taubat nggak akan lagi mendustai yang Maha Kuasa tidak tidur, tahu semua yang dikerjakan hamba-Nya, karena saya yang kurang sabar."

"Tidak mengada-ada saya baca buku Bapak berkali-kali saya ulang, sampai saya ajarkan ke anak saya, bacalah buku ini agar kamu bisa ngerem kehidupan yang bakal kamu jalani sekarang dan seterusnya."

Ini hanya cerita singkat, seorang ibu bernama Bu Fitri yang hebat. Ini dalah satu bukti dari Allah bahwa perempuan itu hebat dan dapat mandiri. Saya sendiri kagum, kagum dengan Bu Fitri, sebagai manusia biasa yang lemah, ia pernah merasa terpuruk, terhina, dan terpojok. Masalah satu belum terselesaikan, datang lagi masalah lainnya. Sehingga wajarlah, saat Bu Fitri bilang sempat mau bunuh diri.

Saya sendiri harus belajar dari kegigihannya menjalani hidup. Saya, laki-laki, harus belajar pada sosok perempuan hebat seperti ini. Saya semakin tidak percaya, kalau banyak orang bilang; perempuan itu lemah, perempuan itu cengeng, perempuan itu akalnya kurang, dlsj. TIDAK! Saya kira, dengan membaca kisah nyata Bu Fitri ini saja cukup, cukup menegaskan bahwa perempuan itu hebat, mandiri, dan mampu menghebatkan kehidupannya.

Dan saya yakin jika teman-teman Grup ini juga demikian. Perempuan-perempuan yang dalam akal dan jiwanya bersemayam potensi dan kualitas yang menghebatkan. Saya mohon, jangan pernah melemahkan, membodohkan, dan merendahkan diri sendiri, padahal Allah begitu yakin jika kamu adalah sosok perempuan tegar, hebat, dan mampu menghadapi ujian.

Masalah itu datang menghampiri, itu buktii bahwa Allah sendiri percaya, bahwa kamu pasti mampu menghadapinya. Tugas kita hanya menghadapi bukan menghindari. Jangan menyerah sebelum berusaha, jangan kalah sebelum mencoba. Justru dengan banyak masalah, hidup kita semakin dewasa, bisa tahu mana yang benar dan salah, serta hidupnya berkah.

Ya, ada banyak pelajaran yang dapat kita petik dari kisah hidup Bu Fitri yang mengharukan ini. Ia hidup menjanda selama tidak kurang dari 14 tahun. Istri siapa yang mau menjanda, ditinggalkan suami sebegitu lamanya. Harus mengurus anak sendiri, membiayainya sendiri, dan segalanya serba dilakukan sendiri.

Ternyata, kalau saya coba maknai kisah nyata Bu Fitri ini adalah betapa dahsyatnya kekuatan kesabaran dan keyakinan akan hadirnya Tuhan. Seperti kata pepatah Islam mengatakan, 'man shabara zhafira'; siapa sabar pasti beruntung. Bu Fitri memang sempat marah pada-Nya tapi akhirnya ia sadar bahwa Allah-lah segalanya di dunia ini. Dan hanya Allah-lah tempat bergantung yang selalu membuat kita untung. Maka, jika selama ini teman-teman terbiasa menggantungkan segala halnya kepada manusia, tunggu saja waktu penyesalan yang menyiksa.

Berikutnya adalah hebatnya membaca buku. Saya sendiri, sampai hari ini harus selalu membaca dan membeli buku. Kalau teman-teman terus ngeyel dan cari alasan sampai membaca dan membeli buku pun masih enggan. Cukupalah kisah nyata Bu Fitri ini menyadarkan teman-teman sekalian. Bagi yang sedang mulai belajar mencintai buku, terus dan tingkatkan. Yang belum, mau nunggu sampai kapan? Sampai ajal kematian?

Tiap bulan harus baca buku terbitan baru. Bukan berarti kita nggak boleh baca buku terbitan lama juga. Apapun bukunya selama ini baik, rakuslah membaca. Tetapi memang harus membeli dan membaca buku baru. Di buku-lah ilmu-ilmu Allah bersemayam. Entah apa jadinya kalau al-Qur'an tidak 'dibukukan' seperti yang kita bisa baca sekarang. Entah apa jadinya kalau para ulama tidak baca buku (kitab) dan tidak menuliskan kembali gagasan-gagasan cemerlangnya.

Mudah-mudahan menginspirasi dan bermanfaat. 
 

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Ibu Pembaca Buku Saya Yang Hebat

0 komentar:

Post a Comment