Ibu yang Sangat Teliti
Mamang Muhamad HaerudinDini hari ia sudah bangun, ambil air wudhu dan bermunajat kepada Allah. Di atas sajadah ia bersimpuh, menengadahkan tangan, sambil menangis memohon kepada Allah demi kesehatan dan kesejahteraan suami dan putra-putrinya. Selepas shalat malam, ia bergegas ke dapur. Kalau persediaan dapur masih lengkap, ia akan langsung memasak, akan tetapi bila kebutuhan dapur hanya tinggal sedikit atau habis ia bergegas ke warung atau ke pasar.
Sambil menunggu masakan, pekerjaan rumah tangga lain ia kerjakan secara bersamaan. Mulai dari cuci piring, cuci baju, mengepel, menyapu, dan pekerjaan lain sejenisnya. Baru setelah adzan shubuh berkumandang ia mulai membangunkan suami dan anak-anaknya untuk kemudian shalat shubuh berjamaah. Pemandangan inilah yang hampir tiap hari saya lihat di rumah.
Beruntunglah ibu mempunyai suami seperti bapak, suami dan bapak yang tak pernah gengsian membantu untuk meringankan pekerjaan rumah tangganya. Bapak kadang membantu menyapu lantai, mencuci piring, membilas pakaian, atau lainnya, semampunya. Saya, sebagai anaknya, merasa haru dan bahagia telah dianugerahi Allah sepasang orang tua yang kompak, saling mengasihi, dan saling mengisi satu sama lain.
Atas sifat dan sikap dalam kehidupan ibu dan bapak-lah saya merasa harus meneladani keduanya. Kisah hidup mereka sungguh berkesan. Akhirnya, saya pun selalu berusaha untuk bisa membantu ibu meringankan pekerjaan rumah tangganya. Betapapun berkali-kali ibu menolak untuk dibantu.
Sesekali memang ibu dan bapak tampak cekcok tapi hal itu tak pernah berlangsung lama. Ibu atau bapak juga kadang seperti memarahi putra-putrinya, mungkin agak kesal. Kami, putra-putrinya, menganggap bahwa hal itu bukan kemarahan melainkan ketegasan sebagai bentuk kasih sayang orang tua pada anaknya. Saking sayang dan perhatiannya, ibu, bagi saya adalah sosok yang paling teliti.
Aa begitulah ibu, teman-teman, dan lainnya di kampung biasa memanggil saya. Aa adalah panggilan akrab saya karena memang saya anak laki-laki pertama. Satu kakak saya perempuan dan satu adik laki-laki. Ya, ibu selalu memperhatikan segala aktivitas putra-putrinya. Tidak hanya pada hal-hal yang besar, hal yang sering dianggap sepele pun ibu selalu tanggap pada saya, anaknya.
“A, kukunya sudah item tuh, sudah panjang pula, cepet dipotong ya kukunya?”, seloroh ibu secara tiba-tiba saat saya sedang memotong pensil, satu ketika.
“O iya Bu nanti juga dipotong”, jawab saya spontan.
Di lain waktu ibu juga sering kali mengingatkan,
“A, rambutnya dicukur, sudah gondrong tuh, sini dicukur sama Ibu”, pintanya pada saya.
“Beres Buuu”, dengan riang saya menanggapinya.
Sejak kecil saya memang lebih senang dipotong rambut oleh Ibu, tidak ke tukang cukur atau siapapun. Selain lebih mengasyikkan, dipotong rambut oleh ibu bisa lebih bebas untuk tawar-menawar supaya potong rambutnya jangan kependekan, hehe. Dan masih banyak lagi, beberapa hal lain bisa saya sebut misalnya tentang memakai pakaian, untuk supaya rapi dan jangan jorok. Pakaian untuk sekolah, main, tidur, dan lainnya harus teratur. Mandinya jangan mandi ‘kadal’, hehe. Mandi kadal itu istilah di kampung kami untuk menyebut mandi yang super cepat, bahkan kadang tak pakai sabun dan gosok gigi, hehe. Ibu juga sosok yang paling teliti agar kami anak-anaknya berbicara dengan bahasa yang lembut. Kebetulan, kami sekeluarga lahir dalam budaya Sunda. Jadi sehari-hari kami berdialog, berinteraksi, bercengkrama, dan lain-lain dengan memakai bahasa Sunda. Bahasa Sunda di kampung kami memang kasar, tetapi karena ketelitian ibu itulah kami diajarkan untuk menggunakan bahasa yang lembut. Satu kata saja terdengar kata kasar, ibu pasti menegur kami. Dan masih banyak lagi.
Hal lain yang paling berkesan adalah saat kami masih anak-anak, ibu adalah orang yang selalu setia mendampingi seharian sampai kami tidur. Ibu selalu membawakan dongeng-dongeng inspiratif sebagai pengantar tidur. Ibu juga selalu mengatakan, “Ayo siapa yang terlelapnya tidur paling cepat berarti itu anak ibu nomor satu”, selorohnya. Dan kami pun selalu berlomba untuk terlelap dalam waktu yang cepat. Setalah kami beranjak dewasa, kami baru paham bahwa itu semua dilakukan ibu agar anaknya bisa istirahat dengan cukup dan selalu sehat menjalani kehidupan sehari-hari. Ibu juga selalu setia membalutkan sejenis lotion anti nyamuk kepada anak-anaknya, agar tidurnya nyenyak.
Ibu juga adalah guru pertama saya yang paling inspiratif. Selain mendidik saya, beliau juga mengajar anak-anak di sekitar kampung untuk mengaji. Dan syukur alhamdulillah, ibu masih diberikan umur panjang dan semoga senantiasa sehat. Aamiin.
0 komentar:
Post a Comment