Ikhtiar Memanusiakan Manusia

Tuesday, February 25, 2014

Perempuan Berbisnis?

Perempuan Berbisnis?

Mamang Muhamad Haerudin 

"Buat para ibu ...
Alangkah lebih baik kalau berbisnis dari rumah saja?
Bukankah anak & rumah tangga itu lebih utama? Perlu durasi perhatian yang paling banyak ..." 
--Ippho Santosa--

Itu salah satu cuplikan dari status Ippho Santosa di facebook. Saya sekedar ingin berkomentar. Bagi saya, berbisnis atau aktivitas apapun menjadi hak perempuan dan laki-laki. Tak terbatas di dalam atau pun di luar rumah. Itu artinya, jika mengharuskan berbisnis di dalam, ya oke, di luar pun nggak ada masalah.

Berbisnis di dalam rumah sambil mendidik anak itu baik. Tetapi bukan berarti berbisnis di luar itu tidak baik dan dianggap menelantarkan anak. Ingat, anak itu menjadi tanggung jawab istri dan suami. Bukan cuma istri saja. Begitu juga dalam hal mendidiknya.

Saya membayangkan seorang Siti Khadijah, salah seorang istri yang paling dicintai Nabi Saw, menjadi pebisnis perempuan paling sukses di masanya. Bahkan Nabi sampai pernah menjadi 'bawahan'-nya Siti Khadijah saat itu. Coba kita renungkan, mana mungkin seorang pebisnis besar seperti Siti Khadijah, menjalankan bisnisnya hanya di dalam rumah saja. Tidak mau bertemu dengan berbagai mitra yang ingin bekerja sama atau para pembeli yang berminat pada hasil produksi bisnisnya.

Ya, meskipun kita nggak tahu nyatanya seperti apa, tetapi kita bisa menduga-duga, bagaimana repotnya menjadi pebisnis perempuan kelas kakap. Lantas kemudian, apakah Siti Khadijah menghiraukan tugasnya sebagai istri dan ibu? Nggak kan ya. Itulah hebatnya potensi perempuan jika berbisnis dengan tulus hati.

Lagi pula suami dan laki-laki itu mesti tahu, bahwa perempuan dan laki-laki itu punya hak dan kedudukan yang sama. Sebagai hamba Allah yang telah dianugerahi akal dan pikiran. Jadi, nggak ada tuh yang namanya 'laki-laki sampai kapanpun akan lebih mulia dari perempuan' atau sebaliknya. Keduanya, diseru oleh Allah untuk hanya berlomba dalam kebaikan. Untuk nantinya meraih predikat takwa. Sementara yang menentukan siapa yang takwa, bukan manusia, tapi Allah Swt.

Perempuan berbisnis itu sejatinya adalah membangun kemandirian. Bahwa perempuan dan laki-laki harus hidup mandiri. Jangan saling ketergantungan dan inginnya cuma dilayani kaya bayi, hehe. Biarpun sudah bersuami istri, keduanya harus sama-sama mandiri. Mandiri dalam apapun, misalnya mandiri dalam ekonomi. Mandiri dengan berbisnis misalnya, ini bukan berarti ingin melawan suami atau mau menghindari tugas sebagai ibu rumah tangga. Bukan, bukan sama sekali. Berbisnis atau bekerja apapun adalah sebagai wujud rasa syukur atas nikmat (akal pikiran; potensi dan kualitas) yang telah diberikan Allah secara cuma-cuma kepada kita; perempuan dan laki-laki.

Jadi, kalau potensi dan kualitas kita merasa cocok untuk berbisnis di dalam rumah, ya mangga ditunaikan. Begitu pun jika ternyata potensi dan kualitasnya berbisnis di luar rumah, ya nggak ada yang harus dipermasalahkan. Di sinilah pentingnya komunikasi antara suami dan istri. Membangun komunikasi yang jujur dan terbuka. Saling mengapresiasi jika ada prestasi, saling mengisi jika ada distorsi. Wallahua'lam. :)

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Perempuan Berbisnis?

0 komentar:

Post a Comment