Perempuan Puisi
Mamang Muhamad Haerudin
Dalam buku terbaru saya "Tuhan, Mohon Izinkan Aku Mencintai Perempuan", saya membahas tema perempuan puisi. Perempuan yang begitu hebat mencipta puisi. Saya menceritakan sosok Bu Nyai Hj. Masriyah Amva sebagai salah satu perempuan daerah--pimpinan pesantren Kebon Jambu Babakan-Ciwaringin-Cirebon--yang sejak tahun 2007 telah banyak mencipta puisi. Yang belum baca buku saya, silakan baca dulu ya! Sudah ada di seluruh toko buku Gramedia se-Indonesia.
Beliaulah perempuan yang sangat produktif menulis. Tak kurang dari 10 buku sudah beliau tulis. Buku-buku itu kebanyakan diterbitkan di penerbit Kompas-Jakarta. Saya menaruh kesan kepada beliau. Beliau, perempuan, yang beda dari kebanyakan. Tentu saja beda dalam kebaikan. Dan bukan berarti saya (maaf) meremehkan perempuan-perempuan lain. Mana mungkin, seorang Bu Nyai Masriyah, sempat menulis begitu banyak buku, padahal santri-satrinya lebih dari 1.000 orang. Lalu kapan beliau sempat menulis?
Aneh, kan? Tapi ini benar nyata. Saya kenal betul siapa Bu Nyai. Kapan saja saya ingin bertemu beliau, saya tinggal datang ke rumahnya. Rumahnya terbuka lebar bagi siapa saja. Mengasuh dan mendidik santri (putra-putri) sejumlah lebih dari 1.000 orang itu bukan hal gampang. Belum lagi aktivitas bisnis yang ia jalani, juga harus terus berkembang. Keluarga besarnya juga, terutama anak-anak juga sangat perlu perhatian. Belum lagi, menerima segala jenis tamu yang hampir tiap hari datang ke rumahnya. Dan memenuhi undangan-undangan; bedah buku, seminar, atau lainnya. Wah, nggak kebayang deh aktivitasnya. Kita mungkin berpikir, gimanaaa ya cara bagi waktunya?
Tiap kali saya berkesempatan berbincang dengan beliau, nggak pernah tuh beliau ngeluh karena banyak asktivitas yang ia lakukan. Nggak suka tuh cengeng hanya karena masalah datang berulang-ulang. Padahal suami beliau sudah wafat, tetapi ia tetap bisa hidup hebat. Coba baca buku terbaru Bu Nyai yang berjudul "Suamiku Inspirasiku", saya mah sudah khatam sejak lama baca buku itu.
Bu Nyai di mata saya adalah perempuan yang ketika bicara selalu menggebu-gebu dan memotivasi. Berkali-kali saya diberi pesan oleh beliau, jangan pernah lepas dari Allah. Dalam keadaan apa pun kita, gantungkanlah semuanya hanya kepada Allah. Sebab, kata Bu Nyai, melakukan apapun tanpa menggantungkan pada ridha-Nya, pastilah berujung sia-sia.
Saya dan kita seharusnya bisa belajar dari Bu Nyai, sesosok perempuan yang tegar, mandiri, dan produktif. Lha, kalau teman-teman muda gimana? Masa masih muda loyo, malas, dan miskin karya? Mau cari alasan? Karena sibuk? Nyibukin apaan? Nyibukin air kali ya, hehe. Sibuk mana kita sama Bu Nyai? Sok kita renungkan!
Dan ini salah satu puisi hasil goresan beliau,
AKU MENGENALMU
Sejuta tanya kulontarkan
Sejuta tangis histeris mengiris
Namun Engkau tetap diam
Membiarkanku didera cercaan
Kau cipta aku dengan kekurangan
Kau cipta aku dengan kelemahan
Kutanya mengapa?
Namun Engkau selalu diam.
Engkau terus bersembunyi
Walau aku terus mencari
Kau selalu membiarkanku
Terus dilecehkan dan dinistakan
Aku lelah
Aku jera
Aku benci dengan diriku
Aku bosan dengan mereka
Aku jera dengan semua
Dan di ambang putus asa
Aku pasrah… Aku pasrah… ( ... dan seterusnya)
0 komentar:
Post a Comment