Ikhtiar Memanusiakan Manusia

Saturday, March 1, 2014

Petunjuk Jalan Menuju Cahaya Kesetaraan

Petunjuk Jalan Menuju Cahaya Kesetaraan

Mamang Muhamad Haerudin


Judul      : Menyusuri Jalan Cahaya: Cinta, Keindahan, Pencerahan
Penulis   : KH. Husein Muhammad
Editor    : Munawir Aziz, MA
Penerbit : Bunyan-Bentang Pustaka, Yogyakarta, 2013
Tebal     : xix, 273 hlm.

Bumi dan segala isinya di dunia ini sejatinya milik Tuhan. Karenanya, manusia dan makhluk ciptaan-Nya yang lain tak lebih sekedar menumpang dan itu pun hanya sementara. Di antara banyak makhluk ciptaan-Nya, manusialah (perempuan dan laki-laki) makhluk yang diciptakan paling sempurna dan dimuliakan. Hal itu bisa ditelisik misalnya dalam QS. al-Isra’ [17]: 70, “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.”

Namun begitu, anugerah kesempurnaan dan pemuliaan dari Tuhan untuk manusia demi tegaknya kemaslahatan tak semudah membalikkan telapak tangan. Karena di saat yang sama, manusia juga berpotensi berbuat kerusakan dan menumpahkan darah (lihat QS. al-Baqarah [2]: 30). Meskipun masih dalam ayat yang sama, Tuhan menegaskan, bahwa Dia lebih tahu daripada siapa pun, sehingga kemudian tetap ‘keukeuh’ menciptakan manusia, tak lain adalah karena manusia dianugerahi akal pikiran.

Agar akal pikiran tersebut berfungsi positif dan dinamis, maka Tuhan pun ‘menurunkan’ agama—terutama Islam—sebagai manifestasi asma-asma Tuhan yang diajarkan kepada Adam (lihat QS. al-Baqarah [2]: 31). Merujuk pada salah satu pengertian dari agama—A berarti tidak, Gama berarti kacau—maka demikian jelas bahwa manusia yang beragama dialah yang tak berkenan pada kekacauan, kerusakan, dan kekerasan.

Adalah kesetaraan (al-Musawa), sebagai salah satu prinsip adiluhung dalam Islam, yang sejak lama sampai kini keberadaannya masih dalam kondisi mengenaskan. Ia dinistakan, dinafikan, dan dizalimi. Dan fatalnya, ketidaksetaraan itu rentan menimpa manusia berjenis kelamin perempuan. Sungguh disayangkan, jika akhir-akhir ini tindak ketidaksetaraan dan kekerasan makin menggila di mana-mana. Orang hanya karena berbeda agama dan keyakinan, saling bermusuhan dan berbaku hantam. Orang hanya karena dia laki-laki merasa lebih unggul ketimbang perempuan. Kekerasan terhadap perempuan, selain kekerasan agama dan keyakinan, merupakan tindak nir-kemanusiaan yang paling rentan dan marak terjadi di kehidupan masyarakat. Jenisnya beragam, mulai dari stereotipe (pelabelan), subordinasi (penomorduaan), domestifikasi (pengurungan), marjinalisasi (peminggiran), diskriminasi (pembedaan), dan lain sejenisnya.

Padahal, sebagaimana kita ketahui bersama, manusia; entah ia perempuan maupun laki-laki di hadapan Tuhan punya kedudukan yang sama dan setara. Bahkan KH. Husein Muhammad, penulis buku ini tegas mengatakan, bahwa, sebagai manusia, perempuan memiliki seluruh potensi kemanusiaan sebagaimana dimiliki laki-laki. Dengan kata lain, sebagaimana halnya laki-laki, perempuan memiliki kekuatan fisik, akal pikiran, kecerdasan intelektual, kepekaan spiritual, hasrat seksual, dan sebagainya. Potensi-potensi (al-Quwa) kemanusiaan tersebut diberikan Tuhan kepada semua manusia yang hidup di mana pun dan kapan pun sebagai prasyarat menjalankan amanat Tuhan, yaitu mengelola dan memakmurkan bumi dan alam. (hlm, 189).

Lebih dari itu, buku ini membentangkan cakrawala kemanusiaan dalam Islam dengan mencerahkan dan mengesankan. Kita benar-benar diajak memedomani Islam yang di setiap sisinya memancarkan cahaya cinta, keindahan, dan pencerahan. Keluhuran cinta, keindahan, dan pencerahan dalam Islam ini akan terwujud hanya jika setiap manusia dapat mendudukkan dirinya secara setara dengan orang lain. Antara perempuan dan laki-laki dengan apapun latar belakang sosial-budayanya. Tak ada yang di atas sementara yang lain di bawah, tak ada yang tinggi sementara yang lain rendah, tak ada yang di depan sementara yang lain di belakang, dan tak ada superior, sementara yang lain inferior; perempuan atas laki-laki maupun sebaliknya. (lihat QS. al-Hujurat [49]: 13, QS. al-Nisa’ [4]: 1 dan 32, QS. al-Baqarah [2]: 62).

Buku ini didesain menjadi empat bagian. Bagian I tentang Keislaman, bagian II tentang Kenabian, bab III tentang Kesetaraan, dan bab IV tentang Pencerahan. Tak seperti kebanyakan orang, penulis buku ini memaknai Islam sebagai kepasrahan dan ketundukan kepada Tuhan semesta alam. Selama orang mengabdi pada Tuhan dan memenuhi amanat-Nya dalam kerja keilahian dan kemanusiaan, dialah orang yang berislam, orang yang pasrah dan tunduk pada kerja vertikal-individual (hablumminallah) dan horizontal-sosial (hambluminannas). Demikian juga ketika memaknai sosok Nabi dan kenabiannya. Bahwa beliau merupakan inspirasi kemanusiaan sepanjang zaman. Sebagai Nabi yang mengasihi, menentramkan, dan menyetarakan. Buah dari pemaknaan tentang keislaman dan kenabian itu adalah kesetaraan. Bahwa semua manusia apapun latar belakangnya; jenis kelamin, agama, keyakinan, suku, bahasa, dll adalah sama dan setara kedudukannya di hadapan Tuhan. Karena itu berislam dan anugerah hidayah-Nya adalah sebuah proses. Proses yang harus dicari dan dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan oleh manusia untuk mencari kebenaran dan kebijaksanaan, tanpa henti. Inilah sesungguhnya petunjuk jalan menuju cahaya kesetaraan yang mencerahkan. Cahaya kesetaraan Islam yang semakin mencerahkan yang dikukuhkan dengan integrasi tradisi lokal, tanggung jawab sosial, dan transformasi kontekstual.

Mengakhiri tulisan sederhana ini, sebagaimana termaktub dalam tadarus pamungkasnya berjudul ‘Hendak Kemanakah Kita?’ Kiai Husein mengatakan sambil mengutip dawuh Nabi Saw. “Apakah aku ini dan kehidupan dunia ini. Perumpamaanku dan dunia ini adalah bagaikan seorang pengendara. Ia tidur (istirahat) sebentar di siang hari, di bawah pohon, lalu meninggalkannya dan berjalan lagi.” (HR. Ahmad), bahwa kehadiran atau keberadaan kita di dunia ini adalah proses keterlemparan. Orang-orang tercerahkan mengajarkan kepada kita tentang jalan terbaik dan termudah yang dapat mengantarkan kepada tempat persinggahan terakhir kita, kembali kepada Tuhan, tempat kita berasal dengan nyaman. (hlm, 270). Kalau kita masih saja getol berlaku keonaran, kesewenang-wenangan, dan kekerasan, apakah pantas kita kembali kepada Tuhan sementara Dia sendiri sumber keselamatan, ketentraman, dan kedamaian? Kalau bukan kepada-Nya, kepada siapa lagi kita akan kembali? Wallahua’lam bi al-Shawab. []

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Petunjuk Jalan Menuju Cahaya Kesetaraan

0 komentar:

Post a Comment