Ikhtiar Memanusiakan Manusia

Saturday, March 1, 2014

Rumah Tua

[Cerpen]

Rumah Tua

Oleh Laeli Kamaliyah*)

Rumah tua itu, kini kusam dan tak lagi berpenghuni. Dindingnya terkelupas, usang dimakan waktu. Tak ada seorang pun yang berani menempati kembali rumah itu. Meski terkesan megah, namun lima tahun yang lalu, masih terngiang atas tragedi yang pernah terjadi di dalam rumah itu.

Cika, gadis berumur 16 tahun, tinggal bersebelahan dengan rumah tua itu. Orang tuanya yang sibuk dengan seabrek pekerjaan, mengharuskan Cika pindah ke rumah neneknya. Di rumah neneknya, Cika sering kena marah, karena kerap ketahuan jika hendak mencoba masuk ke rumah tua itu, diam-diam.

Satu ketika, tepat pada sore hari saat itu, Cika tengah asyik bermain basket seorang diri di halaman samping rumah. Sebab, sore itu ia tampak bosan dengan semua omelan-omelan omahnya yang selalu menyuruhnya bersikap femenim. Di tengah asyik bermain basket, tiba-tiba Cika melempar bola ke ring dengan jarak cukup jauh. Ya, bukanlah Cika, kalau ia tidak bersensasi, selalu berani mencoba hal-hal baru yang menatang adrenalinnya.

Bola basket pun melayang menjulang di udara. Karena ia terlalu bertenaga, bola yang ia lempar melayang lebih jauh melewati pagar dan masuk ke halaman rumah tua. Dan tanpa sengaja, ternyata bola itu mengenai jendela rumah tua itu. “Pring … Aaaa …”, tiba-tiba terdengar pecahan kaca diiringi teriakan seorang gadis kecil.
Cika tersentak kaget, bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. Ia pun semakin penasaran dengan apa yang barusan terjadi di dalam rumah tua.

Cika yang sudah kadung berkarakter perempuan tomboi dan gagah berani, memutuskan untuk memanjat pagar pembatas, yang tingginya hampir sama dengan tinggi badannya. Ya, Cika memang pemberani, suka menghadapi tantangan, meskipun dengan bersusah payah.

Dan sekarang, ia berhasil masuk. “Yes!, aku berhasil masuk, aku memang hebat”, ujar Cika memuji diri. Saat turun dari pagar pembatas, pemandangan pertama yang terlihat adalah pekarangan rumah yang cukup luas, rerumputan liar yang mulai meninggi, dan sekeliling rumah yang tampah kumuh. Ia pun tak ambil diam, Cika beranjak mendekati rumah itu, dan mulai berani membuka pintu.

“Kreeek”, terdengar suara pintu saat Cika membukanya, perlahan. “Hallooo .. Spada … !!”, teriakannya terdengar menggema di sebuah ruang tamu yang tampak gelap dan pengap oleh debu, tak terurus. Ia pun terus bergerilya, meraba dinding, mencoba menemukan stop kontak untuk menyalakan lampu. Dan begitu lampu seisi ruang menyala, entah kenapa, kondisi saat itu seakan-akan berubah seperi dalam kejadian lima tahun yang lalu. Tanpa Cika sadari.

Cika pun mulai ketakutan, ia berlari ke arah pintu hendak ke luar, namun pintu rumah tua itu seakan terkunci dari luar. Ia mencoba meminta tolong dengan berteriak, namun tetap usahanya sia-sia. Meskipun akhirnya, ia bisa menenangkan diri sambil berpikir untuk mencari jalan lain agar bisa keluar.

Lagi-lagi, Cika seperti tak sadar, ia tiba-tiba beranjak melihat ke sekeliling ruangan. Terlihat sebuah foto keluarga berukuran cukup besar, terpajang di dinding rumah tua itu. Sebuah foto keluarga yang lengkap, terdiri dari kedua orang tua dan seorang anak perempuan yang manis.

“Foto siapa ini?”, gumam Cika dalam hati. Saat ia sedang khusu’ memandang foto itu, dari arah yang berdekatan, terdengar tawa gadis kecil. Suara itu berasal dari arah halaman depan rumah. Ia menoleh ke arah jendela, melihat sebuah keluarga tengah bersenda gurau dengan gadis semata wayangnya itu.

“Apa maksud dari semua ini?”, Cika mulai bingung dengan apa yang sedang ia lihat. Di luar, langit berubah gelap, tanda hari berganti malam. Tiba-tiba muncul seorang laki-laki paruh baya di salah satu sudut sofa ruang tamu. Raut wajahnya menandakan rasa ketidakpercayaan, dengan selembar kertas yang sedang ia pegang.

“Tidak mungkin, semuanya hilang … Aku bangkrut … Aku bangkrut!!!”, ujar lelaki itu dengan penuh sesal, sambil memegang kepalanya yang terasa hendak pecah.
“Pah, ada apa memangnya?”, seorang perempuan cantik keluar dari dapur, kemudian beranjak duduk di samping suaminya, meletakkan secangkir kopi. Sang istri pun meraih secarik kertas itu dari tangan suaminya. Sejenak saja, ia tampak tertegun, membisu.

“Semuanya hilang Mah … Seluruh aset kekayaan kita hilang Mah!”
“Kenapa bisa begitu Pah?”, air mata pun mulai mengalir dari mata keduanya.
“Bagaimana dengan nasib Sita, anak kita, Pah! Kita butuh biaya untuk ia sekolah”, sergah sang istri memelas.

“Aku tidak tahu … Aku tidak tahu …”, lelaki itu langsung beranjak pergi meninggalkan istrinya. Ia malah mengurung diri di ruang kerja. Sementara sang istri tetap tampak duduk, menenangkan diri dan berusaha tabah dengan apa yang telah terjadi.
Cika semenjak tadi mematung, memerhatikan gelagat kedua orang itu, akhirnya memberanikan diri mendekat dan bertanya, “Permisi, Bu … !”.
Entah kenapa, sapaan Cika tak dihiraukannya. Ia malah berdiri dan melewati Cika, cuek begitu saja.

“Aku … tak terlihat?”, Cika sadar, bahwa ia tidak ikut dalam kisah itu. Cika pun semakin penasaran, ia pun lantas mengikuti langkah perempuan itu dari belakang. Begitu masuk ke ruang tengah, perempuan tadi ternyata hilang.
“Apa lagi ini?”, Cika semakin aneh dibuatnya.

“Ini mimpi ataukah nyata terjadi?, Cika bertanya pada dirinya sendiri.
“Braaak!!! Terdengar bantingan pintu setelah dibuka. Dan keluarlah seorang laki-laki dari pintu tersebut. Ia lalu duduk di sofa panjang yang menghadap ke TV, dan dari belakang seorang perempuan, istrinya, mengikutinya.

“Pah, kita ini sudah bangkrut, sudah miskin, mestinya Papah itu keluar, cari kerja, kerja apa kek, untuk Sita, Pah!”, sang istri membujuk suaminya agar bisa bangkit bekerja. “Ayo Pah, Papah harus cari kerja lagi, jangan malah ngurung diri di kamar, apalagi hura-hura; minum-minuman keras, yang nggak ada manfaatnya itu”, sang istri mengingatkan dengan nada agak tinggi, sebab dari tadi ocehannya tak dihiraukan.

“Saya tahu Mah, saya tahu, semua benda berharga yang kita miliki sudah raib, saya jual”. Lalu apa lagi yang mesti Papah jual, huh, kamu?”, sergah sang suami, pun dengan nada keras. Terlibatlah dari keduanya, percekcokan yang panjang. Sampai putri semata wayangnya, Sita, bangun dari tidur, keluar dan menghampiri mereka.
“Mamah sama Papah kok berisik amat yah? Kenapa pake teriak-teriak segala? Sita jadi bangun, terganggu nih!”, ucap Sita kepada kedua orang tuanya, dengan lugu sambil masih dalam keadaan memeluk boneka beruang besar kesayangannya.

Perempuan itu mendekati anaknya, lalu ia peluk erat. “Nggak apa-apa sayang, maafin Mamah sama Papah yah? Udah ganggu Sita tidur, sana tidur lagi gih!”.
Sita sambil diantar ibunya lalu masuk ke kamar, sementara ayahnya masih terus berpikir kebingungan. Pikirannya berkecamuk untuk bagaimana caranya mendapatkan uang yang banyak lagi, tanpa harus menjual barang-barang miliknya.
Rupanya, alkohol telah meracuni pikirannya. Ia punya rencana yang busuk, akan mempekerjakan atau tepatnya menjual istrinya sebagai pelacur.

Astaghfirullah. Cika dapat membaca pikiran itu dengan baik. Sebetulnya ia ingin membantu, namun itu tadi, ia hanya bisa jadi penonton dalam kejadian ini.
Lelaki itu beringas, langsung masuk ke kamar Sita dan berusaha menarik istrinya keluar. Melihat ibunya memberontak dipaksa, Sita berusaha membantu, ia memukul ayahnya agar melepaskan ibunya.

“Papah mau ngapain? Mamah mau diapain? Jangan paksa Mamah, Pah, kasian!”, rengek Sita pada ayahnya. “Papah jahat, Sita benci sama papah!”, Sita terus membentak sambil menangis.

“Sita! Masuk kamu! Papah mau bawa Mamah kamu buat cari uang, buat jajan kamu juga. Cepat, sekarang Sita masuk!”, ayahnya balas membentak.

Namun Sita tak menghiraukan, ia terus berupaya membantu rontaan ibunya atas perlakuan kasar ayahnya. Sita terus saja memukuli tangan ayahnya. Karena jengkel, lelaki itu mendorong Sita masuk ke kamar dengan kasar. Sita pun jatuh, kepalanya membentur tembok, darah pun memuncrat keluar dari kepala Sita.

“Sitaaa!! Perempuan itu menjerit histeris. Melihat putrinya berlumuran darah. Tetapi lelaki biadab itu tak mengiba, ia malah terburu nafsu, lalu mengunci pintu kamar dan menarik istrinya keluar.

Setelah itu, Cika masih dibuatnya bengong. Ia mundur mendekati tembok, waspada terhadap sekelilingnya, tiba-tiba terdengar suara memekik, dari arah pintu kamar Sifa. “Kak Cika, tolong aku kak, aku di sini, aku mau keluar!”, suara itu makin jelas terdengar.

“Sifa? Kau kah itu? Apa kau ada di dalam?”, Cika mencoba maju dan membuka pintu kamar.
Begitu pintu terbuka, terlihat sesosok gadis kecil yang manis, berjongkok mengelus-elus tengkorak di pangkuannya. Dari kepalanya menetes darah segar, gadis itu menatap ke arah Cika dan tersenyum dengan mata yang membengkak, menonjol seperti hendak keluar.

“A … a … a …”, Cika terlonjak kaget, kemudian jatuh tak sadarkan diri. Seketika itu, semuanya kembali seperti semula, yakni rumah tua dengan ruangan yang gelap dan pengap.

Beberapa jam kemudian, Cika tersadar. Saat ia sadar, di hadapannya sudah ada Ayah, Bunda, dan Omahnya tercinta, mereka tampak khawatir dengan keadaannya.
“Omah … Bunda … Ayah …”, ucap Cika terbata.

“Cika, kamu sudah bangun, nak!”, Omah menyapa cucunya, terisak, sambil mengelus keningnya.
“Omah, tadi Cika lihat …”, perkataan Cika langsung terhenti, begitu tangan Omahnya menyentuh bibirnya.
“Omah sudah tahu, maaf, harusnya Omah lebih awal menceritakan semuanya kepadamu, nak. Alhamdulillah, untung Omah belum terlambat menemukanmu di sana”, Omahnya tersedu.

“Ayah sudah menelepon polisi, mereka nanti akan meminta penjelasan kamu, nak, jika kamu sudah baikan. Dan tulang yang kamu temukan itu, sudah di kubur”, kata ayahnya sambil tersenyum. Cika yang masih tampak lemas, hanya mengangguk.
“Bunda, Ayah, dan Omah … Cika nggak mau keluarga kita sampai seperti mereka, gila harta”, harap Cika pada keluarganya seketika itu.

“Iya, sayang! keluarga kita nggak akan pernah seperti mereka”, jawab Bundanya, haru.
Akhirnya, mereka pun saling berpeluk erat dan saling berjanji satu sama lain untuk selalu saling menyayangi.
Setelah sehari berlalu, keadaan Cika berangsur membaik. Kemudian, orang tua Cika pun memutuskan untuk membawa Cika kembali ke rumah ia semula. Kebagahagiaan pun menyelimuti Cika sekeluarga, hangat.

*) Peserta Kelas Menulis-Jurnalistik 2012, santriwati pesantren Assalafiat, Babakan-Ciwaringin

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Rumah Tua

0 komentar:

Post a Comment