Ikhtiar Memanusiakan Manusia

Saturday, March 1, 2014

Suami yang Memahami

Suami yang Memahami

Mamang Muhamad Haerudin


Kali ini saya akan bahas tentang dinamika biduk rumah tangga. Terutama kaitannya sama relasi suami dan istri. Saya akan awali bahasan saya dengan pengalaman hidup rumah tangga kedua orang tua saya di rumah.

Bapak--begitu saya memanggilnya--adalah suami dan laki-laki terbaik menurut saya. Begitu juga Mamah--panggilan saya ke ibu--adalah istri dan perempuan paling baik. Haaa, bisa aja muji-muji orang tuanya, hehe. Bertahun-tahun menjalin hubungan rumah tangga dan mendidik ke 3 putra-putrinya, tentu saja ada banyak pahit-manis yang udah dilalui dan dirasakan bersama.

Yang paling berkesan buat saya adalah Bapak atau Mamah memang suka terlihat seperti cekcok. Kadang yang bikin gara-gara Bapak dulu, kadang juga Mamah. Tapi kerennya, nggak pernah tuh kelihatan sampai cekcoknya berhari-hari. Udah berselang beberapa saat mah, mereka sadar atau nggak, mudah sekali akur lagi, senyum-senyum lagi.

Itulah barang kali, yang selama ini dianggap bahwa cekcok itu biasa dialami suami-istri tapi bukan untuk dibiasakan.

Di rumah, Bapak jadi suami yang nggak gengsian. Beliau sering kali bantu ngerjakan pekerjaan rumah tangga. Mulai dari cuci piring, nyapu lantai, bilas pakaian, dan lain sejenisnya. Bapak juga bukan tipikal suami yang segala-gala inginnya dilayani. Dilayani tiap pagi dibikinin kopi, kue-kue, sambil baca koran, nggak banget. Malah beliau seringnya bikin sendiri, apa-apa sekiranya bisa dikerjakan sendiri ya dilakukan sendiri.

Bapak juga nggak suka ngomong kasar, apalagi bentak-bentak, sama istri atau anak-anaknya. Kalau bicara pelan, harus jarak dekat, dan santun.

Sampai Bapak nggak pernah bilang malu, saat saya ngajarin beliau bacaan ayat al-Qur'an. Bapak memang lahir dari keluarga yang awam agama. Dulu, kalau kita ngumpul di rumah, seringnya ba'da maghrib, Bapak selalu minta diajarin ngaji al-Qur'an.

Nah, saya kaget kalau denger ada suami yang kerjaannya nyuruh-nyuruh istri. Segala-gala inginnya dilayani kaya bayi, hehe. Kalau nggak dituruti gampang marah, sedikit aja salah ngamuk. Paraaah.

Suami dan umumnya para laki-laki mestinya memahami, bahwa istri itu manusia mulia. Jangan pernah anggap dia sebagai manusia kelas dua. Kedudukannya rendah di bawah laki-laki. Tolong jangan ya! Makanya, suami-istri itu punya kedudukan yang sama; sama-sama mulia. Jangan pernah merasa paling unggul dan berkuasa. Laki-laki/suami jangan pernah merasa hebat hanya karena jenis kelaminnya laki-laki.

Indah sekali kalau prinsipnya saling menjaga, melengkapi, dan menghargai. Karena suami dan istri masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.

Pada bulan Desember 2013 kemarin, saya hadir dalam diskusi tentang KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) di luar kota. Beberapa poinnya, KDRT itu marak terjadi. Pada tahun 2012 saja Komnas Perempuan melaporkan telah terjadi lebih dari 250.000 kasus kekerasan, kasus terbesar KDRT.

Nah, ini teman-teman, mulai sekarang kita kudu waspada. Jangan-jangan selama ini orang tua atau saudara terdekat kita yang menjadi korban atau pelaku KDRT itu. Angka KDRT itu berpotensi besar, KDRT sulit dilacak karena kejadiannya di dalam rumah. Masih banyak istri yang takut melaporkan kekerasan suaminya, katanya, aib dan KDRT itu 'bunga-bunga' dalam keluarga.

Sejak lama saya gelisah dan ingin cari solusinya. Bahwa KDRT harus dilaporkan dan jangan didiamkan. Buang jauh-jauh ketakutan, istilah aib, dan 'bunga-bunga' keluarga itu. O ya kekerasan terhadap perempuan itu banyak macamnya lho; kekerasan fisik (memukul, menendang, mencekik, dll), kekerasan psikis (membentak, mengancam, dll), kekerasan seksual (memaksa bersebadan, bersebadan saat haid, dll), dan kekerasan ekonomi (menggantungkan beban rumah tangga pada istri, tak menafkahi, dll).

Ini dulu ya. Kapan-kapan dilanjutkan. Semoga kita para lelaki menjadi laki-laki yang memahami.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Suami yang Memahami

0 komentar:

Post a Comment