Ikhtiar Memanusiakan Manusia

Tuesday, February 25, 2014

Tahaduts Bin-Ni'mat

Tahaduts Bin-Ni'mat

Mamang Muhamad Haerudin

Masih ingat dengan kisah perempuan hebat ini? Kisah nyata perjuangan hidup Bu Asih (Jenk Lel) yang saaaangat luar biasa. Ya, kisah hidup ini berguna untuk 'menusuk-nusuk' nurani perempuan dan apalagi laki-laki agar hidupnya berwarna. Yuk kita baca lagi!

"Saya dari keluarga yang kurang ada, saat lulus aliyah (setara SMA) saya berfikir, saya nggak mungkin bisa kuliah, karena memang nggak ada biaya. 2 tahun saya isi dengan bantu ortu jualan dan sesekali baca buku pengembangan diri. Sampai akhirnya saya merubah paradigma saya tentang diri saya sendiri. "Saya bisa kuliah, dan harus kuliah dengan biaya sendiri". Agar tetep kuliah, akhirnya saya nyambi ngajar TK, MD, Privat anak TK, SD. Boro-boro buat hura-hura, alay-alayan, saat itu kegiatan saya full, pagi berangkat jam 6, ngajar di 2 tempat, dalam sehari ada 4 anak yang saya privatin, dan itu berpindah-pindah, dari rumah A ke rumah B, ke rumah C dan D. Pulang ke rumah baru jam 9 malem dan itu terus saya lakukan demi tetep bisa kuliah (Subhanallah ... nikmatnya perjuangan ... kalo inget doeloe jadi pengen nitikin air mata ... hehe, jadi ikutan alay deh). Alhamdulillah dari kerja keras itu saya mampu meng-cover biaya kebutuhan pribadi dan semua biaya kuliah S1 saya sampai selesei. Oya, saya pun gemar mengikuti berbagai pelatihan-pelatihan ke TKan di dalam maupun luar kota, yaaa ... sambil itung-itung jalan-jalan, hehe. Tahun 2011 saya mulai merintis PAUD gratis, saya berusaha membangun kepercayaan masyarakat untuk dapat menitipkan anaknya di PAUD kami. Alhamdulillah dari semula yang bangunannya gubug semi permanen, sekarang sudah kokoh tingkat 3, dari semula saya ngajar hanya sendiri, sekarang sudah dibantu 6 guru, dari semula hanya PAUD, sekarang sudah ada RA, dan alhamdulillah PAUD dan RA kami masih gratis. Saya masih terus belajar untuk lebih bisa manfaat buat orang."

Jelb ... Jleb ... Jleb! Subhanallaaah. Hei, anak muda! Sudah baca kan kisah nyata ini? Ada komentar apa dari lu abis baca kisah ini? Biasa aja atau gimana? Yang merasa biasa setelah baca kisah ini, sebaiknya kamu 'pensiun' aja jadi anak muda, sana tukeran umur aja sama kakek atau nenekmu, hehe. Yang kesannya sampai membuat hati bergetar dan jantung berdetak kencang, kamu berarti normal, ya normal bahwa kamu anak muda, meskipun belum jadi anak muda sejati.

Coba bayangin, pernah mikir nggak, bahwa cari uang itu susah? Kuliah pake biaya sendiri, bukan malah ngempeng ke ortu kaya bayi. Pernah kepikiran nggak buat memberi kebaikan pada masyarakat, bikin sekolah gratis kaya Bu Asih? Ya Allah, ya Rasulullaaah, mulia dan sekali impiannya. Hanya dengan modal impian, ikhtiar dan Ilahi, benar nyata impian hebat itu mewujud nyata dan terjadi.

Makanya saya gemes dan sebel banget kalau ada anak muda, yang kerjaannya up date status-nya ngeluuuuh aja. Heh, lu pikir akan selesai masalahnya kalau kerjaan lu cuma ngeluh? Nyebar-nyebarin virus ngeluh ke orang-orang, lu pikir itu baik? Yang ada malah tambah ruet cui.

Nggak cuma itu, kita harus bisa bedain mana mental pemenang dan pecundang. Mental pemenang itu kalau ada orang lain yang bahagia, dia bahagia. Ada orang lain hidupnya hebat, maka dia mau menirunya. Bukan malah cari-cari alasan, sampai bilang: "Hidup gitu aja pake dipamerin? Masih banyak kok orang yang lebih hebat dari kamu? Dan seterusnya bla bla bla. Inilah pecundang. Jamil Azzaini bilang, sok bijak tapi pemalas, hehe.

Teman-teman, kisah hidup Bu Asih ini namanya 'tahaduts bin-Ni'mat' mengisahkan dan menyukuri nikmat dari Allah, bukan ria bukan pamer. Bedain coba ulasan kisahnya. Sebab udah beda gerak-gerik orang yang mau ria/pamer sama tahaduts bin-ni'mat. Gitu ya!

Ayolah bangkit, Bu Asih sudah mengisahkan kenikmatan Allah kepada kita. Anak muda hidupnya harus semangat dan pantang menyerah. Jangan sedikit-sedikit ngeluh, pesimis, dan nyerah. Saya tunggu pengalaman, perjuangan, dan kenangan hidup hebat dari teman-teman yang lain.Oke?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Tahaduts Bin-Ni'mat

0 komentar:

Post a Comment