Ikhtiar Memanusiakan Manusia

Sunday, March 9, 2014

Anak, Amanah, dan Fitnah

Anak, Amanah, dan Fitnah

Mamang Muhamad Haerudin

Di pesantren, para santri dididik dan dituntut untuk bisa hidup mandiri, melakukan apapun dengan tangan sendiri. Mulai dari membiasakan bangun lebih pagi, memasak, mencuci pakaian, mengaji, dan berbagai aktivitas lainnya, begitu rutinitas setiap hari. Segala aktivitas dikerjakan tidak dengan segala dilayani, memanjakan, apalagi dipaksakan, para santri dibimbing para Kiai dan Nyai untuk melakukan segala sesuatunya berlandaskan hati nurani dan kesadaran.

Dalam tradisi pesantren dikenal dengan ro’an (kerja bakti bersama), biasanya rutin dilakukan seminggu sekali pada hari Jum’at pagi. Para santri, ustadz, dan Kiai berbaur menjadi satu melakukan kerja bakti. Seperti menyapu halaman pesantren, mencabuti rumput liar, menguras bak mandi, mengepel, membersihkan toilet, dan lain-lain, semua dilakukan dengan cekatan dan penuh suka cita.

Ada juga tradisi mayoran (makan bersama), selurus civitas pesantren berkumpul dan bergotong royong memasak menu makanan dalam porsi besar untuk nantinya dimakan bersama. Mayoran pun bukan hanya oleh para santri tetapi para ustadz dan Kiai ikut bersama menikmati. Nasi dengan lauk pauk seadanya, dinikmati di helai daun pisang, menggunakan tangan. Dan masih banyak tradisi-tradisi lainnya.

Demikian perpaduan kemandirian dan kebersamaan hidup di pesantren. Institusi pendidikan warisan asli para ulama leluhur yang sampai hari ini masih mengakar kuat di masyarakat. Tak ada hal yang paling diutamakan, selain mengaji, juga menanamkan kemandirian dan kebersamaan pada kepribadian para santri. Dengan kemandirian para santri diharapkan menjadi pribadi yang punya tanggungjawab akan dirinya sendiri dan bermanfaat di sekeliling orang lain. Dengan modal kemandirian, kebersamaan pun akan terjalin.

Lebih dari itu, pesantren di huni oleh para santri dari berbagai penjuru Nusantara. Jumlahnya ratusan bahkan ribuan. Itulah sebabnya, wajah pendidikan di pesantren bercorak multikultural. Sungguh pun mereka datang dengan berbagai latar belakang, kebersamaan dalam keberagaman senantiasa dijaga dan disemai.

Berbagai macam aktivitas harian, mingguan, bulanan, dan tahunan begitu tertib dilakukan oleh civitas pesantren, terutama para santri. Demikian aktivitas Kiai, Nyai, dan para ustadz dalam mengurus santri.

Kontras
Beberapa pekan ini publik diributkan dengan peristiwa naas yang menimpa putra bungsu musisi kawakan Ahmad Dhani, Dul (Abdul Qodir Jailani). Mencuatnya peristiwa ini bukan hanya karena menewaskan banyak korban, tetapi juga sebagaimana publik ketahui, kehidupan Ahmad Dhani yang ‘mewah’ dan penuh kontroversi.

Namun yang kali ini banyak disorot memang tentang kehidupan seorang anak dengan pola pergaulannya sehari-hari. Siapa yang tidak menghela, Dul yang masih dalam usia belia sudah diizinkan mengendarai mobil semewah itu. Ditambah dengan pola pergaulan remaja ala sekarang, yang konon penuh hura-hura atau sekedar nongkrong di kafe-kafe elit.

Melihat kenyataan ini tentu saja sangatlah kontras. Sangat kontras, terutama jika kita bandingkan dengan kehidupan para santri di pesantren, minimalnya seperti apa yang sudah saya jelaskan di atas. Penanaman kemandirian bukan pemanjaan, kebersamaan bukan individualitas, akhlakul karimah bukan harta dan mobil mewah.

Di saat yang sama, saya juga kerap menemukan orang tua yang mengeluh dalam mengurus anak padahal dengan jumlahnya yang hanya beberapa saja. Karena anaknya bandel, susah diatur, hiper-aktif, dan lainnya. Akibatnya tak jarang banyak orang tua yang mudah memarahi dan belaku kekerasan kepada anaknya. Andai saja mereka, para orang tua, tahu kondisi kehidupan anak-anak (santri) di pesantren yang jumlahnya ratusan dan ribuan yang hanya diurus oleh seorang Kiai dan Nyai serta beberapa santri senior yang lazim disebut ustadz, setidaknya akan berpikir betapa mengurus santri yang datang dari berbagai daerah itu lebih berat.

Menjaga Amanah
Sudah saatnya, kita, para orang tua dapat menahan atas kesenangan dunia, terutama soal menjaga amanah. Menjaga amanah atas anak yang dititipkan Tuhan pada kita. Ya, anak adalah amanah, ia bisa menjadi anugerah sekaligus fitnah. Menjadi anugerah jika kelak anaknya dapat berproses menjadi anak shaleh-shalehah. Menjadi fitnah, jika pola pergaulannya tak terkendali, tak jelas arah.

Sebagaimana anak, harta adalah titipan Tuhan. Ada baiknya jika harta yang dimiliki tak sampai membutakan mata, alangkah bijaknya jika justru dapat berbagi kebahagiaan kepada kelompok masyarakat menderita (dhu’afa). Petunjuk ini tertera dalam Firman-Nya dalam QS. Al-Anfal [8]: 28, “Dan ketahuilah olehmu semua bahwa sesungguhnya harta bendamu dan anak-anakmu itu adalah fitnah …”
Amanah itu harus dijaga karena ia dekat dengan cobaan. Cak Nur (alm. Nurcholish Madjid) mengatakan tentang hal ini bahwa, anak dan harta adalah batu penguji tentang siapa kita ini sebenarnya dari sudut kualitas hidup dan kepribadian kita. Sebab, lanjut ia, kualitas itu akan dengan sendirinya tercermin dalam apa yang kita lakukan kepada anak (dan harta) itu: menuju kebaikan ataukah membawa kepada keburukan.

Tak ada gunanya saling menyalahkan, sebaliknya, mari saling bercermin dan berintrospeksi diri, bahwa, betapa kehadiran orang tua (ayah dan ibu) bagi anak-anak adalah paling utama dan menentukan. Pengasuhan (pendidikan) sudah seharusnya dilakukan oleh keduanya. Walhasil, masa depan anak sebagian awal ada pada orang tuanya dan sebagian akhir ada pada dirinya. Keterutuhan dan keharmonisan dalam rumah tangga lebih berharga dari apapun, apalagi sekedar harta.

Allah Swt pun kembali mengingatkan, “Wahai sekalian orang beriman, jagalah diri kamu dan keluargamu dari api neraka …” (QS. Al-Tahrim [66]: 6). A. Yusuf Ali berpendapat ketika mengomentari ayat ini, kita harus dengan cermat menjaga tidak hanya tingkah laku kita sendiri, tetapi juga tingkah laku semua keluarga kita, dan semua orang yang dekat dan kita cintai. Sebab permasalahannya adalah sungguh amat gawat, dan adanya berbagai ancaman kejahatan (moral) adalah sungguh amat mengerikan. []

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Anak, Amanah, dan Fitnah

0 komentar:

Post a Comment