Ikhtiar Memanusiakan Manusia

Friday, March 21, 2014

Apa, Cerai?

Apa, Cerai?


Dalam 2 bulan di tahun 2014, ada 1.116 kasus perceraian di (Pengadilan Agama) PA Kab. Cirebon (Januari; 595 kasus, Febuari; 521 kasus). Angka ini didominasi oleh pasangan nikah usia dini, 21-30 tahun. Latar nikah dini usia ini didominasi akibat dijodohkan orang tua dan hamil duluan. Disesuaikan dari Harian Kabar Cirebon (12/3/2014).

Nah, lho? Kesan apa yang membenak saat teman-teman baca potongan berita ini. Ngeri kan? Nikah-cerai kok kaya mainan. Maka dari itu kita mesti waspada, apa itu nikah dan bagaimana konsekuensinya. Begitupun dengan cerai, kudu tahu bagaimana ketentuannya dan apalagi akibatnya bagi banyak orang di sekitar, terutama anak-anak. 

Jangan-jangan orang-orang terdekat kita termasuk salah satu pelaku nikah-cerai yang gampangan gitu. Wah jangan sampai deh! Yuk kita bahas lagi apa itu nikah. Ya, nikah itu nggak cuma modal cinta dangkal doang. Nikah itu bukan cuma ngandelin saling demen aja. Apalagi cuma modal janji-janji manis. Haaah, lewaaat!

Nikah itu ikatan seumur hidup, ikatan yang nggak cuma melibatkan komitmen pada manusia, tetapi pada Allah Swt juga. Dengan nikah, itu artinya kita sanggup ngadepin apa saja, berdua dan bersama. Sebab, baik perempuan dan laki-laki melekat kelebihan dan kekurangan. Nggak ada perempuan yang 100% sempurna tanpa kekurangan, sebagaimana pun laki-laki. Baiknya, kita saling melengkapi. Saling mengisi jika ada distorsi, saling mengapresiasi jika ada prestasi.

Jadi, aneh aja kalau kemudian mereka yang udah nikah, malah kepikiran dan tega sampai mutusin cerai. Biasanya nih ya, yang gampang nyeraikan itu laki-laki alias suami. Bayangin aja, sering kali umum anggapan, bahwa suami kapan pun dan di mana pun nyeraikan istri. Makanya, kita sering lihat ada istri yang begitu tunduk dan nurut pada suaminya, seperti sikap yang takut diceraikan gitu.

Padahal, teman-teman, sesaat setelah nikah, derajat perempuan menjadi istri tetap mulia. Nggak ada ceritanya, perempuan setelah nikah jadi turun derajat dan pangkat menjadi 'budak' atau 'pembantu' suaminya. Nggak, nggak gitu! Perempuan dan laki-laki setelah nikah sekali pun derajatnya sama; tetap mulia dan setara. Jadi nggak ada tuh, suami lebih mulia dari istri. Nggak ada, beneran!

Kita bahas juga cerai yang diakibatkan karena nikah usia dini. Ini nih yang bikin saya gemes juga. Orang nikah kok pake dini-dini, nikah dini tuh sama kaya nikah buru-buru tahu! Makanya nikah tuh harus tepat waktu, hehe. Ya? Ini juga kenapa orang tua pake jodoh-jodohin segala, sambil maksa lagi, nggak boleh tahu, hehe. Orang tua tuh tugasnya sebagai penyejuk, kasih saran dan pencerahan. (Maaf Bu dan Pak, agak kasar, hehe)

Yang paling nyebelin tentang penyebab 'hamil duluan', hadeuuuh. Kata saya juga jangan pacaran. Bandel sih, hehe. Pacaran itu akan terus mendorong pelakunya penasaran, makin penasaran, malah kebablasan. Banyak kan buktinya? Mau jadi korban berikutnya? Iiih, ya jangan lah ya.

Tetapi memang, tolong dan mohon, jika kita nemuin remaja putri yang jadi korban, jangan sampai dicuekin dan diejekin. Saya mohon jangan. Mereka yang korban kehamilan itu tetap teman dan saudara kita. Mereka justru sedang butuh pelukan dan motivasi dari kita, supaya dia tetap semangat buat hidup. Sebab sering kali, dia yang jadi korban, adalah dia yang potensi dan bakatnya hebat. Jangan sampai potensi dan kehebatannya hilang gitu aja. Tolong dia ya. Pliiis.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Apa, Cerai?

0 komentar:

Post a Comment