Apa, Cerai?
Dalam 2 bulan di tahun 2014, ada 1.116 kasus
perceraian di (Pengadilan Agama) PA Kab. Cirebon (Januari; 595 kasus,
Febuari; 521 kasus). Angka ini didominasi oleh pasangan nikah usia dini,
21-30 tahun. Latar nikah dini usia ini didominasi akibat dijodohkan
orang tua dan hamil duluan. Disesuaikan dari Harian Kabar Cirebon
(12/3/2014).
Nah, lho? Kesan apa yang membenak saat teman-teman
baca potongan berita ini. Ngeri kan? Nikah-cerai kok kaya mainan. Maka
dari itu kita mesti waspada, apa itu nikah dan bagaimana konsekuensinya.
Begitupun dengan cerai, kudu tahu bagaimana ketentuannya dan apalagi
akibatnya bagi banyak orang di sekitar, terutama anak-anak.
Jangan-jangan orang-orang terdekat kita termasuk salah satu pelaku
nikah-cerai yang gampangan gitu. Wah jangan sampai deh! Yuk kita bahas
lagi apa itu nikah. Ya, nikah itu nggak cuma modal cinta dangkal doang.
Nikah itu bukan cuma ngandelin saling demen aja. Apalagi cuma modal
janji-janji manis. Haaah, lewaaat!
Nikah itu ikatan seumur hidup,
ikatan yang nggak cuma melibatkan komitmen pada manusia, tetapi pada
Allah Swt juga. Dengan nikah, itu artinya kita sanggup ngadepin apa
saja, berdua dan bersama. Sebab, baik perempuan dan laki-laki melekat
kelebihan dan kekurangan. Nggak ada perempuan yang 100% sempurna tanpa
kekurangan, sebagaimana pun laki-laki. Baiknya, kita saling melengkapi.
Saling mengisi jika ada distorsi, saling mengapresiasi jika ada
prestasi.
Jadi, aneh aja kalau kemudian mereka yang udah nikah,
malah kepikiran dan tega sampai mutusin cerai. Biasanya nih ya, yang
gampang nyeraikan itu laki-laki alias suami. Bayangin aja, sering kali
umum anggapan, bahwa suami kapan pun dan di mana pun nyeraikan istri.
Makanya, kita sering lihat ada istri yang begitu tunduk dan nurut pada
suaminya, seperti sikap yang takut diceraikan gitu.
Padahal,
teman-teman, sesaat setelah nikah, derajat perempuan menjadi istri tetap
mulia. Nggak ada ceritanya, perempuan setelah nikah jadi turun derajat
dan pangkat menjadi 'budak' atau 'pembantu' suaminya. Nggak, nggak gitu!
Perempuan dan laki-laki setelah nikah sekali pun derajatnya sama; tetap
mulia dan setara. Jadi nggak ada tuh, suami lebih mulia dari istri.
Nggak ada, beneran!
Kita bahas juga cerai yang diakibatkan karena
nikah usia dini. Ini nih yang bikin saya gemes juga. Orang nikah kok
pake dini-dini, nikah dini tuh sama kaya nikah buru-buru tahu! Makanya
nikah tuh harus tepat waktu, hehe. Ya? Ini juga kenapa orang tua pake
jodoh-jodohin segala, sambil maksa lagi, nggak boleh tahu, hehe. Orang
tua tuh tugasnya sebagai penyejuk, kasih saran dan pencerahan. (Maaf Bu
dan Pak, agak kasar, hehe)
Yang paling nyebelin tentang penyebab
'hamil duluan', hadeuuuh. Kata saya juga jangan pacaran. Bandel sih,
hehe. Pacaran itu akan terus mendorong pelakunya penasaran, makin
penasaran, malah kebablasan. Banyak kan buktinya? Mau jadi korban
berikutnya? Iiih, ya jangan lah ya.
Tetapi memang, tolong dan
mohon, jika kita nemuin remaja putri yang jadi korban, jangan sampai
dicuekin dan diejekin. Saya mohon jangan. Mereka yang korban kehamilan
itu tetap teman dan saudara kita. Mereka justru sedang butuh pelukan dan
motivasi dari kita, supaya dia tetap semangat buat hidup. Sebab sering
kali, dia yang jadi korban, adalah dia yang potensi dan bakatnya hebat.
Jangan sampai potensi dan kehebatannya hilang gitu aja. Tolong dia ya.
Pliiis.

0 komentar:
Post a Comment