Ini Satu Bukti, Perempuan Siap Mengganti
Mamang Muhamad Haerudin
Kepemimpinan atau
aspek apapun dalam kehidupan tidak melihat jenis kelamin.
Siapapun--laki-laki maupun perempuan--jika ia berkompeten dan
berkualitas untuk memimpin, maka keduanya punya kesempatan yang sama
untuk memenuhi haknya.
Berita ini merupakan satu bukti jika jenis kelamin dan identitas formalistik tak menjamin seseorang menjadi amanah atas pekerjaan yang diembannya. Betapa miris, daerah Aceh yang punya julukan 'serambi Mekkah', punya label daerah 'khusus' ketimbang daerah lainnya, punya peraturan 'syari'ah', dan lain-lain ternyata tidak malah membuat mereka amanah.
Inilah keteledoran saat syariah atau Islam hanya dijadikan label yang formal. Jauh dari inti dan substansi. Syariah dan Islam yang hanya dijadikan tameng untuk 'membeli' simpati publik. Na'uzubillah.
Disadari atau tidak, memang kenyataan inilah yang sedang marak terjadi. Orang-orang (muslim-muslimah) doyan menggembor-gemborkan syariah atau Islam hanya sebatas simbol. Negara Islam bukan NKRI. Undang-undang Syariah bukan UUD. Bank syariah bukan Bank konvensional. Begitu seterusnya.
Kita harus ingat, bahwa bangsa kita Indonesia diperjuangkan dan dimerdekakan oleh ragam jenis manusia, suku, budaya, dan agama. Tidak hanya oleh umat Islam. Kita harus bercermin pada Nabi saw., saat dulu memimpin Madinah. Nabi saw tidak pernah mendirikan dan memproklamirkan Madinah sebagai negara Islam. Tidak, tidak sama sekali.
Termasuk piagam Madinah, piagam pertama di dunia yang syarat dengan nilai-nilai universalitas--keadilan, kemanusiaan, keberagaman, dll--dibikin oleh dan untuk semua kalangan. Namanya pun bukan piagam Islam tetapi piagam Madinah. Teman-teman bisa cek naskah piagam Madinah, dari sekitar 40-an lebih butir piagam Madinah, tidak ada satu pun kata-katanya yang menyebut 'Islam', al-Qur'an', 'hadits', atau sejenisnya. Dicari sampai kiamat pun nggak akan ketemu, hehe.
Begitu jugalah seharusnya Indonesia. Negara kaya akan keberagaman dan perbedaan. Bersyukurlah bangsa kita bisa tetap bersatu di tengah keberagaman sekalipun. Sebagaimana semboyan luhur kita mengatakan, 'Bhinneka Tunggal Ika'. Bhinneka Tunggal Ika berasal dari bahasa Sansakerta bukan bahasa Arab, tetapi bukan berarti salah. Mentang-mentang bahasa Sansakerta pasti salah, ya nggak lah!
Oleh karena itu, bukti ini sekaligus memperkuat untuk membukakan kesempatan yang lebar kepada para perempuan untuk memimpin. Perempuan-perempuan Indonesia hari ini adalah perempuan-perempuan potensial dan berkualitas. Meskipun masih banyak yang didiskriminasi, perempuan Indonesia hari ini sudah banyak yang mampu berpendidikan tinggi dan berkiprah di luar rumah.
Dan ingat, perempuan berkiprah di luar rumah itu bukan melawan kodrat. Tetapi itu salah satu bentuk rasa syukur atas banyak nikmat. Bukan pula ingin menyaingi laki-laki. Perempuan berkiprah semata-mata karena mengaktualisasikan potensinya dengan baik. Kalau laki-laki merasa tidak mampu dan tidak kompeten dalam bidangnya kenapa harus dipaksakan. Sudah saatnya kesempatan itu diberikan kepada perempuan.
Bisa dibayangkan, sedemikian lama perempuan sering kali direndahkan dan dianggap bodoh di semua peradaban manusia. Potensi dan kualitas mereka sengaja ditimbun dan di kubur hidup-hidup sebelum diberi kesempatan beraksi. Sungguh mengerikan!
Saya yakin, jika hari ini saatnya perempuan memimpin. Berita ini satu bukti, bahwa perempuan siap mengganti.
http://www.merdeka.com/peristiwa/kepala-polisi-syariah-aceh-gelapkan-uang-honor-rp-650-juta.html.
Berita ini merupakan satu bukti jika jenis kelamin dan identitas formalistik tak menjamin seseorang menjadi amanah atas pekerjaan yang diembannya. Betapa miris, daerah Aceh yang punya julukan 'serambi Mekkah', punya label daerah 'khusus' ketimbang daerah lainnya, punya peraturan 'syari'ah', dan lain-lain ternyata tidak malah membuat mereka amanah.
Inilah keteledoran saat syariah atau Islam hanya dijadikan label yang formal. Jauh dari inti dan substansi. Syariah dan Islam yang hanya dijadikan tameng untuk 'membeli' simpati publik. Na'uzubillah.
Disadari atau tidak, memang kenyataan inilah yang sedang marak terjadi. Orang-orang (muslim-muslimah) doyan menggembor-gemborkan syariah atau Islam hanya sebatas simbol. Negara Islam bukan NKRI. Undang-undang Syariah bukan UUD. Bank syariah bukan Bank konvensional. Begitu seterusnya.
Kita harus ingat, bahwa bangsa kita Indonesia diperjuangkan dan dimerdekakan oleh ragam jenis manusia, suku, budaya, dan agama. Tidak hanya oleh umat Islam. Kita harus bercermin pada Nabi saw., saat dulu memimpin Madinah. Nabi saw tidak pernah mendirikan dan memproklamirkan Madinah sebagai negara Islam. Tidak, tidak sama sekali.
Termasuk piagam Madinah, piagam pertama di dunia yang syarat dengan nilai-nilai universalitas--keadilan, kemanusiaan, keberagaman, dll--dibikin oleh dan untuk semua kalangan. Namanya pun bukan piagam Islam tetapi piagam Madinah. Teman-teman bisa cek naskah piagam Madinah, dari sekitar 40-an lebih butir piagam Madinah, tidak ada satu pun kata-katanya yang menyebut 'Islam', al-Qur'an', 'hadits', atau sejenisnya. Dicari sampai kiamat pun nggak akan ketemu, hehe.
Begitu jugalah seharusnya Indonesia. Negara kaya akan keberagaman dan perbedaan. Bersyukurlah bangsa kita bisa tetap bersatu di tengah keberagaman sekalipun. Sebagaimana semboyan luhur kita mengatakan, 'Bhinneka Tunggal Ika'. Bhinneka Tunggal Ika berasal dari bahasa Sansakerta bukan bahasa Arab, tetapi bukan berarti salah. Mentang-mentang bahasa Sansakerta pasti salah, ya nggak lah!
Oleh karena itu, bukti ini sekaligus memperkuat untuk membukakan kesempatan yang lebar kepada para perempuan untuk memimpin. Perempuan-perempuan Indonesia hari ini adalah perempuan-perempuan potensial dan berkualitas. Meskipun masih banyak yang didiskriminasi, perempuan Indonesia hari ini sudah banyak yang mampu berpendidikan tinggi dan berkiprah di luar rumah.
Dan ingat, perempuan berkiprah di luar rumah itu bukan melawan kodrat. Tetapi itu salah satu bentuk rasa syukur atas banyak nikmat. Bukan pula ingin menyaingi laki-laki. Perempuan berkiprah semata-mata karena mengaktualisasikan potensinya dengan baik. Kalau laki-laki merasa tidak mampu dan tidak kompeten dalam bidangnya kenapa harus dipaksakan. Sudah saatnya kesempatan itu diberikan kepada perempuan.
Bisa dibayangkan, sedemikian lama perempuan sering kali direndahkan dan dianggap bodoh di semua peradaban manusia. Potensi dan kualitas mereka sengaja ditimbun dan di kubur hidup-hidup sebelum diberi kesempatan beraksi. Sungguh mengerikan!
Saya yakin, jika hari ini saatnya perempuan memimpin. Berita ini satu bukti, bahwa perempuan siap mengganti.
http://www.merdeka.com/peristiwa/kepala-polisi-syariah-aceh-gelapkan-uang-honor-rp-650-juta.html.
0 komentar:
Post a Comment