Ketika Remaja Tak Lagi Remaja
Mamang Muhamad Haerudin
Berita ini sungguh menyakitkan. Remaja yang seharusnya mengisi waktu dengan giat belajar, malah terjerumus pada lembah kehinaan. Kalau sudah begini, tanggung jawab siapa? Tentu saja tanggung jawab kita bersama. Tidak saling menyalahkan, apalagi cari kambing hitam.
Remaja adalah masa transisi yang labil dan rentan menuju masa dewasa. Mereka perlu pendampingan dan kasih sayang yang intens dari orang-orang terdekatnya. Inilah barang kali penyebab utama mengapa remaja mudah terjerumus, selain pengaruh alat komunikasi (HP, jejaring sosial, dlsj).
Saya sendiri merasa aneh karena sering kali menemukan remaja yang 'musuhan' sama orang tuanya. Ya, orang tua menjadi sosok yang menakutkan bagi anaknya. Akibatnya, anak merasa terintai dan tidak nyaman. Melakukan segala sesuatunya dengan sembunyi-sembunyi karena takut dimarahi orang tuanya.
Akhirnya para remaja pun tidak kerasan di rumah. Selalu saja ada alasan untuk keluar rumah. Dengan berbohong sekalipun. Yang penting keluar rumah. Remaja pun lebih banyak bergaul dengan teman-teman sebayanya dengan pola pergaulan yang bebas. Inilah menurut saya yang juga menjadi penyebab mengapa 28% remaja di Bandung menjadi PSK. Adalah karena pola gaul yang berlebihan; nongkrong di kafe-kafe, ke salon, gonta-ganti HP keren, dan lain-lain.
Berita menyakitkan ini bisa menjadi pelajaran untuk kita semua. Terutama agar regenerasi bangsa dapat teselamatkan dan dapat belajar dengan tenang. Kepada orang tua, agar sedini mungkin menanamkan sikap kejujuran dan keterbukaan pada anak. Menjadi orang tua yang tegas bukan keras. Menjadi orang tua yang multifungsi; menjadi sahabat curhatnya, dan menjadi apapun demi anaknya.
Kepada, remaja-remaja semuanya, jangan sampai berita ini menimpa kalian. Kita cukupi berita menyakitkan hari ini juga. Menjadilah remaja pembelajar. Remaja yang setiap hari disibukkan dengan belajar. Jangan salah memaknai istilah gaul. Gaul itu bukan nongkrong tidak karuan, bukan tawuran, bukan malas belajar, bukan bolos sekolah, bukan coret-coretan, dan lain-lain. Yuk kita ubah gaul yang produktif, gaul itu dia yang giat belajar, yang berprestasi, yang giat ibadahnya, dan lain-lain.
Kalau mau jadi remaja mandiri, belajar jadi wirausaha. Pelajar yang sedari dini sudah mampu menghasilkan uang. Syukur-syukur bisa membiayai sekolah sendiri, atau juga punya tabungan. Saya sendiri sedang belajar mewujudkan ini. Ayo, lawan rasa gengsi!
Buat remaja putri, hati-hati dengan laki-laki. Jangan mudah dibeli dan diiming-imingi. Mustahil dia memberimu tanpa ada maunya. Dan kepada remaja laki-laki juga hati-hati. Jangan membuat onar dan sakit hati. Jaga diri dan bisa menjaga remaja putri. Indahnya melihat remaja putra-putri yang bisa belajar dengan gigih, kepada sesamanya saling menyemangati, dan hidupnya berlimpah prestasi.
Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik. Aamiin.
http://regional.kompas.com/read/2013/09/05/0945388/28.Persen.Pekerja.Seks.Remaja.di.Bandung.adalah.Pelajar.Aktif
0 komentar:
Post a Comment