Ikhtiar Memanusiakan Manusia

Monday, March 3, 2014

Perempuan dalam Film Soekarno

Perempuan dalam Film Soekarno

Mamang Muhamad Haerudin

Ada yang sudah nonton film Soekarno? Yang sudah, alhamdulillah deh, yang belum jangan manyuuun, hehe. Iya nih, tadi sore barusan saya nonton. Kalau boleh cerita sih, nonton tuh salah satu hobi saya dari SMP, hehe. Tapi sekarang mah alhamdulillah sudah jarang.

Ya film Soekarno, film ini menarik, menegangkan, mengharukan, dan satu lagi; ada yang menyebalkan. Siapalah yang tak kenal dengan Bung Karno, presiden pertama RI. Sosok presiden berperawakan tinggi besar, gagah, dan pemberani.

Uniknya, sebelum kita nonton ini film, para penonton akan disuruh menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kontan saja membuat para penonton menggelak tawa. Tak berlangsung lama, semua penonton pun hanyut dalam kehidmatan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ini awal yang menarik dan seolah-olah ingin membawa penonton ikut masuk dalam film itu.

Lahir dengan nama kecil Kusno, Bung Karno dalam film itu gambarkan sebagai anak kaum 'berada'. Menginjak remaja namanya diganti menjadi Soekarno. Soekarno kecil sering sakit-sakitan, ayah-ibunya berikhtiar segala cara agar anaknya sembuh, termasuk bertirakat tidur di bawah ranjang Bung Karno berbulan-bulan. Semakin beranjak dewasa Bung Karno mulai mengenal cinta, ia jatuh cinta pada Mien, gadis belia keluarga Belanda. Kandas, karena orang tua Mien tak merestui.

Film ini betul-betul menggambarkan betapa getirnya perjuangan Bung Karno, dkk ketika melawan penjajah. Belanda hilang, Jepang datang. Berkali-kali Bung Karno ditangkap, dipenjara, dan diasingkan. Yang hebat, di dalam penjara inilah beliau produktif menulis.

Berkaitan dengan perempuan, sosok istri bernama Bu Inggit ditampilkan. Sosok perempuan Sunda, cantik dan setia. Bu Inggitlah sosok yang selalu membuat Bung Karno nyaman dan tenang dalam kegalauan yang berat. Namun, mungkin ini sudah jalan hidupnya, sudah sekian lama menikah, keduanya belum dikaruniai anak. Sebagai orang berpengaruh, Bung Karno ingin sekali punya anak sebagai penerus. Apalagi kedua orang tua Bung Karno.

Di saat yang sama, aktivitas Bung Karno selain berpolitik adalah pernah menjadi guru. Salah satu murid cerdasnya adalah Fatmawati. Intensitas pertemuan, kecerdasan, dan kecantikan Bu Fatma barang kali yang membuat Bung Karno jatuh hati. Diam-diam Bung Karno dan juga Bu Fatma saling menaruh cinta.

Kenyataan itu diketahui Bu Inggit, jelas, kenyataan pahit ini begitu menusuk hatinya. Bu Inggit marah besar karena Bung Karno mau memadunya. Ya marah besar! Istri siapa lah yang mau dimadu. Perempuan siapa lah yang tak tertarik pada Bung Karno.

"Izinkan aku berbuat sesuatu sekali lagi, untukmu", ujar Bung Karno pada Bu Inggit, sebab keduanya harus berpisah. Pahiiit sekali.

Jujur teman-teman, saat menonton adegan itu, perasaan dan nurani saya juga terkoyak. Bu Inggit, istri yang sangat setia mendampingi Bung Karno harus menyimpan kenyataan pahit. Di sinilah letak kenynyiran saya pada karakter Bung Karno.

Singkat kisah akhirnya Bu Fatma resmi menikah dengan Bung Karno. Tak selang lama, keduanya dikaruniai putra bernama Guntur. Berbinarlah wajah keduanya.

Perlu diketahui, sebagai manusia biasa, Bung Karno menjadi sosok penggalau, hehe. Sedikit-sedikit galau, beneran, hanya karena ingin nikah lagi. Urusan bangsa pun terduakan oleh kegalauannya. Pas adegan itu, saya up date status; 'Kalau saat itu sudah ada, saya yakin Bung Karno akan up date status di facebook: 'Aku galaaauuu', hehe.

Selebihnya, penderitaan rakyat Indonesia begitu berat. Kerja paksa (romusha), perampasan, dan perkosaan marak. Perkosaan menjadi kejahatan yang menyakitkan menimpa perempuan. Sampai Bung Karno, memutuskan, agar para perempuan desa tak dijadikan korban, Bung Karno memberikan para PSK kepada para hidung belang Jepang. Keputusan ini juga sempat ditentang oleh banyak kalangan.

Menuju detik-detik kemerdekaan, semakin menegangkan. Dari mulai pembentukan PETA sampai BPUPKI, dijalani Bung Karno dengan diplomatis dan elegan. Sementara Sjahrir tampak beringas dan menginginkan Bung Karno ambil tindak cepat.

Film ini juga memperlihatkan adanya kontribusi dari kaum pesantren; kiai dan santri, meskipun tak terlalu eksplisit. Yang tak kalah menarik adalah saat rakyat dari berbagai kalangan (agamawan) bersitegang untuk menentukan dasar negara. Di sini Bung Karno tampil memukau dengan mengonsep Pancasila yang kemudian diambut sorak-sorai tanda setuju.

Akhirnya, setelah dua kota Jepang--Hirosima dan Nagasaki--dibombardir. Indonesia merdeka. Pagi 17 Agustus 1945 rakyat Indonesia berkumpul untuk mendengarkan dan melihat langsung pembacaan teks proklamasi. Bendera merah putih pun berkibar. Merdekaaa!

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Perempuan dalam Film Soekarno

0 komentar:

Post a Comment