Tentang Miss World
Mamang Muhamad Haerudin
Setelah diributkan dengan isu tes keperawanan, kini masyarakat sedang ribut soal perelatan akbar; Miss Word 2013. Tidak lama lagi perhelatan ini akan digelar di Indonesia. Masyarakat pun kembali ribut antara yang pro dan kontra. Saya sendiri tidak sedang berada di pihak pro maupun kontra. Selain tak ada untung, juga tak ada makna.
Pertama, saya ingin katakan, kita, sebagai orang yang mengaku beriman, sudah sepatutnya tak gusar oleh hanya perhelatan semacam itu, apalagi dengan alasan merusak keimanan banyak orang dan kedok kemaksiatan. Kemaksiatan adalah soal pikiran seseorang yang ngawur. Seorang perempuan di sebrang tembok sekalipun, akan terasa (maaf) mesum oleh pikiran laki-laki( atau siapapun) yang ngawur (maksiat, mesum).
Kedua, saya juga harus akui bahwa Miss World tidak sepenuhnya buruk. Sebagaimana banyak orang mengatakan, dengan perhelatan semacam ini akan mendorong sebuah Negara untuk mempromosikan budaya dan meningkatkan devisa. Selain itu juga di dalamnya terdapat program-program kemanusiaan.
Ketiga, demikian juga saya harus akui bahwa Miss Morld menyimpan persoalan, terutama mengenai eksploitasi perempuan. Perhelatan ini hanya untuk perempuan cantik dan seksi tanpa kecuali. Perempuan dipersolek dan dipertontonkan layaknya boneka pajangan berjalan. Sekalipun pada tahun ini katanya tanpa sesi bikini.
Keempat, saya juga tidak sependapat dengan kritik atau protes bernada ancaman, sumpah serapah, dan kekerasan atas nama Islam. Negara kita memang Negara bebas berpendapat, tetapi sebaiknya diaspirasikan dengan kesantunan. Tidak tebar kata-kata kotor dan fitnah.
Tidak seperti saat isu tes keperawanan muncul ke muka, beragam kalangan memberikan kritik dan pandangan. Tetapi pada moment Miss World ini beberapa kalangan moderat seperti NU,Komnas Perempuan, dan lainnya, sampai saat saya menulis ini belum menyampaikan sikapnya; apakah pro atau kontra. Berbeda dengan kalangan yang berafiliasi dengan Islam fundamental; HTI, PKS, dan lain sejenisnya, dengan garang menuntut agar perhelatan ini digagalkan. Namun yang aneh, Gubernur Jawa Barat—Ahmad Heriyawan—dalam wawancaranya di salah satu televisi swasta, malah menyetujuinya.
Tidak mudah memang menyikapi dan menyelesaikan masalah ini. Mengingat ini perhelatan bertaraf dunia. Sudah dapat dipastikan akan ada banyak pihak yang berkepentingan dan meraih keuntungan. Rasa-rasanya sulit atau bahkan mustahil jika kehormatan menjadi tuan rumah, digagalkan begitu saja oleh pemerintah atau sebagian kalangan.
Ironisnya, Miss World digugat, baru-baru ini malah mencuat kabar perhelatan akbar tandingan; Muslimah World. Saya sendiri tak tahu pasti apa alasan dari perhelatan tandingan ini. Lepas dari apapun alasannya, bukankah sama saja; Miss dan Muslimah World? Sebagian orang bisa menjawab berbeda, sebab yang satu memakai jilbab, yang lain tidak. Muslimah World memakai gamis, sedangkan Miss World tidak. Tetapi tetap sama bukan mempertontonkan kecantikan dan kemolekan?
Kalau toh iya kita konsisten akan ‘pemberantasan kemaksiatan’, masih terlalu banyak aktivitas-aktivitas yang mengarah kesana yang sifatnya harian, mingguan, dan bulanan (terutama dan yang terbaru adalah maraknya praktik kawin kontrak). Tetapi perlu dicatat, aktivitas itu berjalan tidak semata atas kemauan dirinya. Ada banyak faktor yang menghimpitnya.
Tak kalah penting, agar kita jauh dari karakter menjadi muslim kagetan, muslim yang mudah mencari gara-gara dan terprovokasi. Akibatnya kita pun lupa dengan hal-hal kemanusiaan subtantif yang seharusnya lebih pantas diributkan (dibahas dan dicarikan solusi) ketimbang hanya soal Miss World. Sekian. Wallahua’lam bial-Shawab
0 komentar:
Post a Comment