Tes Keperawanan, Untuk Apa? [1]
Entah apa maksud dari aturan Dinas Pendidikan Kota Prambulih, Sumatera Selatan yang rencananya akan memberlakukan tes keperawanan bagi siswi SMA. Kalau maksud dari aturan itu untuk mengurangi angka pergaulan bebas, memperbaiki moralitas siswa, mengurangi angka prostitusi, trafiking, atau mungkin lainnya, lalu pertanyaannya; apakah nyambung semua alasan itu? Logika apa yang dipakai bahwa tes keperawanan berbanding lurus dengan kualitas moral dan pendidikan?
Begini, pendidikan itu akan maju dan berkualitas hanya jika proses pembelajaran siswa di sekolah itu berjalan dengan baik. Dan proses pembelajaran yang baik adalah ketika guru mampu menjalankan tugasnya dengan amanah, ditunjang dengan sarana dan prasarana yang memadai. Itu saja.
Maka, aturan yang mengada-ada sekaligus buang-buang anggaran itu harus segera dibatalkan. Alangkah bijaknya jika Dinas Pendidikan terkait dan dimana pun berada fokus pada program yang sifatnya prinsip, terutama pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan.
Saya tidak tahu makna apa yang terbesit di pikiran mereka ketika memahami kata atau istilah keperawanan? Baik, kalau kita merujuk pada KBBI, kita akan menemukan kata dasar dari keperawanan; perawanan. Ia mempunyai arti, anak perempuan yang sudah patut kawin; anak dara; gadis. Sementara keperawanan sendiri berarti belum pernah bersetubuh dengan laki-laki; masih murni perihal perawan; kesucian (kemurnian) seorang gadis; kegadisan.
Nah, kalau kemudian keperawanan diartikan sebagaimana dijelaskan dalam KBBI, maka kita akan paham tentang kekacauan berpikir dan aturan yang mengharuskan melakukan tes keperawanan bagi siswi (perempuan) di sekolah. Karena ia berbicara tentang komitmen bukan angka (kuantitas) yang bisa diukur; bahwa ia perawan atau tidak.
Tentu saja, tes keperawanan itu ‘ngaco’ ketika diterapkan dimana pun, termasuk dalam kehidupan rumah tangga (keluarga). Maka, saya juga miris ketika ada laki-laki (suami) yang rela menceraikan istrinya hanya karena alasan ketika malam pertama berhubungan badan, tidak keluar darah. Darah ini dipahami masyarakat arus utama sebagai darah perawan. Padahal, apakah benar darah tersebut secara mutlak bisa menentukan bahwa perempuan sudah tidak perawan?
Karena itu tidak ada jalan lain kecuali kita semua sadar betapa pemahaman dan hal-hal lain yang dipahami oleh kebanyakan orang tidak lebih daripada mitos. Ya, mitos yang tidak perlu dan membahayakan masa depan remaja-pemuda dan menghancurkan keutuhan rumah tangga. Mito-mitos lain yang sering kali—untuk enggan mengatakan selalu—dipahami dan mencuat di masyarakat soal keperawanan adalah bahwa ciri-ciri perempuan yang sudah tidak perawan adalah mereka yang selaput dara (hymen)-nya robek. Padahal, pemahaman tersebut tidak dapat dibenarkan secara medis sekalipun. Dengan kata lain, tidak ada kaitannya selaput dara dengan keperawanan seorang perempuan.
Selain itu juga, katanya, perempuan yang sudah tidak perawan adalah ia yang payudaranya turun, pinggangnya mengendur, cara berjalannya mengangkang, dan lain sebagainya.
Makanya, saya ingin juga katakan, bahwa saya sepakat bahwa keperawanan—sebagaimana keperjakaan bagi laki-laki—itu penting. Keperawanan yang dimaknai sebagai komitmen untuk menjaga kesucian dan harga diri seseorang dari segala mitos dan kejahatan seksual-sosial apapun. Dengan begitu, baik perempuan maupun laki-laki keduanya wajib menjaga keperawanan dan keperjakaannya masing-masing. Bukan dengan pemahaman keperawanan yang salah kaprah itu.
Walhasil, apapun motif Dinas Pendidikan Kota Prambulih tersebut tidak dibenarkan, entah karena baru sekedar wacana maupun akan benar dijalankan. Kesalahan pertama wacana soal tes keperawanan tersebut telah meresahkan banyak elemen masyarakat. Kedua, membuktikan bahwa kualitas pendidikan di negeri ini masih jauh dariberkualitas. Dan ketiga, mencederai ajaran moral dan agama (Islam) itu sendiri.
Termasuk dalam biduk rumah tangga. Kunci kebahagiaan suami istri adalah kejujuan dan keterbukaan satu sama lain. Sudah saatnya masyarakat Indonesia, khususnya publik pendidikan dan pemerintah bisa lebih bijak dalam berwacana dan mengambil kebijakan, itupun kalau tidak mau masa depan regenerasi bangsa tergadaikan dan hancur. Tes keperawanan, untuk apa? Wallahua’lam.

0 komentar:
Post a Comment