Tokoh Pendidikan Perempuan 2013
Mamang Muhamad Haerudin
Teman-teman yang baik, siapa bilang perempuan itu lemah? Siapa bilang perempuan cengeng? Siapa bilang perempuan cerewet? Siapa bilang perempuan akalnya kurang? Siapa bilang perempuan tak bisa berprestasi? Siapa bilang perempuan tak bisa berkarya? Hah?
Satu lagi ada perempuan inspiratif, ya, namanya Nyai. Hj. Masriyah Amva, pengasuh pondok pesantren Kebon Jambu al-Islamy Babakan-Ciwaringin-Cirebon.
Beliau perempuan biasa yang sangat luar biasa. Saya sendiri mengenal beliau, dan beliau ada guru sekaligus sahabat saya. Sejak kecil meskipun terlahir dari pasangan terhormat, tak lantas membuat beliau besar hati dan sombong. Sejak remaja, beliau sudah terbiasa hidup mandiri dengan berjualan makanan di sekitar komplek pesantren milik ayahnya. Beliau bersama kakak dan adiknya betul-betul dididik untuk hidup mandiri. Kalau mau hidup cari modal hidup sendiri.
Masa mudanya, beliau habiskan di pesantren. Pernah berkuliah, hanya tidak selesai. Sepulang belajar dari pesantren, beliau dipinang KH. Abdus Syakur Yasin, yang kini menjadi pengasuh pesantren Cadangpinggan, Indramayu.
Bermukim lama di Tunisia dan sejumlah negara lainnya, lantaran ikut suami bertugas di sana, di KBRI. Hidup di luar negeri pun tak lantas membuatnya manja, beliau tetap berusaha untuk mandiri.
Kenyataan pahit datang tak terkira. Entah ada angin apa, rumah tangga Bu Nyai terhantam badai konflik sampai akhirnya kandas dengan keputusan berpisah.
Kenyataan menjadi single parent, tak lantas membuat Bu Nyai putus asa, beliau harus tetap bisa menghidupi anak-anaknya. Karena itu, Bu Nyai mulai berbisnis, bisnis perhiasan, dan lainnya. Kadang untung, seringnya rugi, tapi terus ia jalani.
Kabar gembira datang, saat ia dipersunting KH. Muhammad, salah seorang kiai duda yang alim dan tawadhu. Menikahlah beliau berdua dan sama-sama mengasuh pesantren Kebon Jambu. Pesantren ini dirintis dari nol sampai sekarang menjadi luar bisa perkembangannya. Menjadi pesantren salaf yang kualitas dan kuantitasnya mumpuni.
Supaya teman-teman tahu juga, suami tercinta KH. Muhammad pun akhirnya dipanggil-Nya. Ia pun kini sendiri lagi. Tapi keputusan Allah itu tak sedikitpun ia sesali. Karena katanya, keputusan Allah selalu terbaik.
Bu Nyai juga menjadi satu-satunya pengasuh perempuan yang paling produktif menulis buku. Buku yang sudah berhasil ia tulis, tidak kurang dari 10 judul. Buku antologi puisinya 'Ketika Aku Gila Cinta', dll dan buku catatan renungannya 'Bangkit dari Terpuruk', dll. Saya sendiri sudah hampir membaca semua karyanya. Bacaan yang menyehatkan, menggetarkan, dan mencerahkan. Kisah seorang perempuan hebat dari pesantren.
Dan sudah bertahun-tahun mengabdikan hidupnya di pesantren, beberapa hari kemarin, beliau terpilih menjadi salah satu tokoh pendidikan perempuan pesantren inspiratif yang dianggap berhasil dalam memajukan pesantren.
Sudah banyak penghargaan yang beliau terima. Saat kemarin saya mengirim SMS kepada beliau: 'Assalamu'alaikum, Ibu, saya baru tahu kabarnya, selamat atas penganugerahan sebagai tokoh pendidikan pesantren yang berhasil dari Kementerian Agama. Semoga maslahat bagi semua.'
Beliau membalas SMS saya: 'Terimakasih, semoga tidak menjadikan merasa menjadi besar.' Balasannya singkat dan menusuk nurani.
Inilah bukti nyata bahwa perempuan dan laki-laki diciptakan Allah dari jiwa yang satu. Kedudukan keduanya setara. Perempuan dan laki-laki sama-sama dimuliakan Allah. Keduanya punya potensi dan kualitas yang sama untuk sukses. Begitulah ajaran Islam, tak pernah membeda-bedakan perempuan dan laki-laki. Saya sebagai laki-laki, harus jujur, inilah perempuan hebat. Dan saya harus berguru dan meneladaninya. Jangan jadi laki-laki yang selalu merasa berkuasa dari perempuan. Semoga
0 komentar:
Post a Comment