Umur Terus Berangsur, Itikad Nikah Makin Ngulur
Mamang Muhamad Haerudin
Kali ini saya ingin bahas tentang nikah teman-teman. Dulu saat saya kuliah S1 di awal-awal semester, saya termasuk orang yang nggak suka lihat pola pergaulan kaum muda; pacaran dan nikah dini. Pacaran itu menyakitkan dan menghinakan. Nikah dini itu meredupkan dan membahayakan. Maka dari itu kalau saya ketemu dengan sesama teman mahasiswa, saya orang yang paling rewel dan cerewet, suka ngomporin teman-teman supaya jangan ikut-ikutan pacaran dan nikah dini.
Hehe, saya akui deh, saya juga laki-laki yang cerewet, cerewet dan nggak tahan kalau lihat hal-hal jelek yang menusuk hati. Nah, jadi kalau masih ada orang yang bilang 'cerewet' itu identik sama perempuan, 100% salah! Laki-laki juga sama punya potensi cerewet, kaya perempuan.
Saya ngomong gini karena saya dari dulu nggak pernah dan nggak mau pacaran. Ada sih yang sinis, ngatain saya nggak laku, hehe. Halah, biarin aja, entar juga capek sendiri. Siapa bilang nggak laku, banyak yang ngantri lho, hehe. Juga nggak mau nikah dini. Maka kerjaan saya saat dulu masuk awal kuliah, ya fokus sama kuliah lah, bukan ngededein pergaulan nggak karuan. Fokus supaya bisa rutin baca buku, menulis, dan diskusi. Makanya, kalau ada mahasiswa yang nggak suka baca, nulis, dan diskusi mending 'pensiun' aja jadi mahasiswanya. Sana, jadi kuli aja!
Saya sangat sayang sama ibu, maka saya juga harus sayang sama teman-teman perempuan. Kalau saya nyakitin perempuan, itu sama aja nyakitin ibu saya. Makanya, saya tekad saya bulat, ingin menguatkan para perempuan supaya percaya diri, nggak minder, dan bisa hidup hebat. Karena saya tahu ibu saya adalah orang hebat, maka tiap kali saya lihat perempuan, mereka juga harus jadi orang dan calon ibu yang hebat.
Sehabis kuliah S1 lulus, saya berbalik arah. Apa maksudnya berbalik arah? Saya mulai ingin ngomporin, terutama teman-teman saya yang sudah lulus tapi belum menikah, terutama teman-teman perempuan. Ada banyak teman-teman perempuan saya, yang kini umurnya sudah 24 dan 25 tahun tapi belum pada nikah. Saya membaca kehidupan teman-teman perempuan ini, kenapa kok umur sudah mapan kaya gitu, masih ragu sama nikah aja.
Kalau laki-laki, saya juga nggak keberatan kalau ada laki-laki yang nikah pada usia 24 atau 25 tahun. Tapi menurut saya laki-laki ideal nikah antara 26 atau 27 tahun. Ya ini mah pendapat saya aja, teman-teman bisa berbeda.
Gini teman-teman perempuan muda, yang usianya sudah 24 atau 25 tahun. Kalau sampai hari ini niat dan itikad nikah masih belum menancap di hati, kalian kudu hati-hati. 'Umur terus berangsur, itikad nikah makin ngulur', jangan sampai gitu ya! Usia segitu bagi perempuan menurut saya sudah mapan dan seharusnya segera nikah. Tapi itu tadi, banyak teman-teman perempuan saya yang masih ragu dan galau.
Keragu-raguan dan kegalauan itu timbul karena; terlalu pilih-pilih, nggak punya target waktu nikah yang jelas, dan kebanyakan pacaran. Memilih jodoh yang ideal dan sempurna itu wajar dan malah dianjurkan. Kata Nabi pilihlah dari segi; harta, keturunan, kecantikan/ketampanan, dan agama (akhlak); dan akhlak-lah yang utama. Tapi kalau, sampai gini hari teman-teman kelamaan milih, ya namanya sungguh terlaluuu! Terus juga, kalian nggak punya target nikah, kapan kalian mau nikah. Tentukan dan rundingkan sama orang tua, gitu lho!
Contoh mau nikah bulan Juli 2015, ya silakan ikhtiar segigih mungkin, berdo'a sekhuyu' mungkin, dan berbuat baik serutin mungkin. Tapi ingat jangan pacaran, apalagi sampai doyan gonta-ganti. Kenapa? Supaya kita pantas berjodoh dan nikah sama orang yang setara sama kulitas pribadi kita. Sebab, salah satu ayat dalam surat An-Nisa menyatakan; orang baik pantasnya berjodoh dengan yang baik, yang buruk berjodoh dengan yang buruk. Makanya selama waktu pencarian itu, fokuskan untuk memperbaiki diri, supaya kita pantas mendapatkan jodoh yang baik pula. Gitu.
Akhirnya, kalau misalnya sampai menjelang Juli 2015 ternyata belum dapet calon yang cocok. Jangan malah ngulur-ngulur nikah, itu namanya orang nggak punya pendirian, hehe. Jadi gimana? Gini, kalau sudah demikian, perempuan yang yakin ingin menikah adalah tawakal 'ala Allah alias pasrah. Pasrah itu apa maksudnya? Memasrahkan urusan calon suami itu kepada orang tua kita dan Allah. Siapa pun yang dipilih orang tua akan ia terima. Ketentuan semacam ini juga berlaku bagi laki-laki juga.
0 komentar:
Post a Comment