Ikhtiar Memanusiakan Manusia

Monday, November 23, 2015

Membangun Surga di Dunia



Membangun Surga di Dunia

 Hasil gambar untuk Surga

Apa yang terbenak saat kita mendengar kata ‘surga’? Saya menduga, kata ‘surga’ dekat dengan akhirat, dapat dirasakan hanya nanti saat kita telah mati, itu pun kalau amal ibadah serta kebaikan kita banyak, diterima oleh-Nya. Saya tidak hendak menyalahkan, tetapi ingin melengkapi anggapan dan keyakinan kita, karena surga bisa kita bangun di dunia. Apa benar bisa? Jawabannya tentu saja, bisa!

Kita, adalah manusia, perempuan maupun laki-laki, sebagai makhluk Allah yang sangat mulia. Kemuliaan manusia karena bentuk penciptaannya terbaik dan sempurna ketimbang makhluk ciptaan Allah lainnya. Allah sama-sama menganugerahkan akal pikiran dan hati kepada perempuan dan laki-laki. Allah juga memberikan kesempatan yang sama untuk kita agar dapat menumpahkan segala potensi seoptimal mungkin.

Di tengah arus canggihnya teknologi dan globalisasi, efek negatifnya begitu dekat, selain efek positifnya. Berkat teknologi, terutama internet dan hand phone, akses kita untuk menjelajah dunia sangat mudah. Tetapi di saat yang sama, efek negatif dari internet pun begitu nyata. Pergaulan bebas, perdagangan manusia, penipuan dan berbagai efek negatif lainnya.

Dalam rangka membangun surga di dunia, kita, terutama para kaum muda Muslim-Muslimah, agar memanfaatkan masa muda ini dengan sebaik mungkin. Menjadi kaum muda yang kreatif dan mandiri. Membaca, menulis dan diskusi menjadi aktivitas yang dibiasakan. Tanpa tiga aktivitas ini, saya khawatir kaum muda kita akan jauh tertinggal dan terbelakang. Berikut juga ikhtiar untuk sukses semuda mungkin. Hidup produktif, penuh dengan karya dan pengabdian. 

Ibarat bangunan, sebelum mendirikan bangunan itu kita memerlukan fondasi dan berbagai macam bahan bangunan; pasir, batu, batu bata, besi dan lainnya. Nah, aktivitas bermanfaat seperti membaca, menulis, diskusi dan serangkaian ikhtiar lain inilah yang akan mampu menciptakan kenikmatan surga di dunia. Hidup kita berjalan dengan ilmu. Hidup kita bermanfaat bagi sesama. 

Surga itu sepenuhnya kebaikan, saat kita ingin membangun surga, bangunlah dengan banyak melakukan kebaikan. Surga di dunia akan menjadi bekal untuk membangun surga di akhirat. Generasi muslim muda kita harus cerdas. Kita harus saling berbuat baik. Tidak boleh saling menjatuhkan. Sebab kita saling membutuhkan. 

Menjadilah laki-laki muslim yang ramah terhadap perempuan muslimah. Kita tidak boleh merasa paling unggul dan berkuasa. Sebab, perempuan dan laki-laki punya hak yang sama untuk berkiprah memakmurkan kehidupan di dunia. Sebelum atau pun sesudah menikah, perempuan tetap mulia dan harus dimulikan. Ia boleh berkiprah di wilayah domestik maupun publik. Perempuan yang telah menikah pun boleh berkarir, bukan untuk menyaingi suaminya, tetapi niat untuk beribadah dan untuk mewujudkan rasa syukur kepada Allah atas segala nikmat.

Termasuk anggapan semacam ini; perempuan itu cerewet, perempuan itu dekat dengan syetan, perempuan itu fitnah, perempuan itu tempatnya neraka, perempuan itu akalnya lemah, perempuan itu agamanya kurang dan lain sejenisnya; tidaklah benar. Islam tidak pernah mencap perempuan seperti demikian. Islam justru sebaliknya, selalu memuliakan perempuan.

Inilah beberapa pesan saya untuk segenap Muslim-Muslimah; pertama, bagi yang masih remaja dan masih dalam masa belajar, pergunakan waktu remajamu dengan sebaik mungkin. Habiskan masa remajamu untuk sepenuhnya belajar agar berprestasi. Jangan terbuai pacaran dan pergaulan bebas. Hampir tidak ada satu pun manfaat pacaran. Pacaran zaman sekarang sudah kelewat batas. Ingat kalian itu manusia yang Allah ciptakan dengan terhormat dan mahal, jangan kalian ‘jual’ harga diri kalian dengan murah. Jangan sampai kalian menyesal.

Kedua, bagi yang sedang begitu menantikan calon jodoh dan ingin segera menikah. Sabar dan tawakal-lah selalu kepada Allah. Tidak usah gengsi, ukurannya jangan manusia. Jangan pesimis, jangan galau hanya karena diberendel dengan pertanyaan kapan nikah? Pikiran kita harus tetap positif, aminkan saja semuanya agar menjadi kebaikan dan kenyataan. 

Ketiga, bagi yang sedang dalam masa rumah tangga, menjadilah suami yang ramah istri. Jangan mau jadi suami yang maunya cuma dilayani. Jadilah suami yang mau bersama mengurus rumah tangga, suami yang rendah hati dan tidak selalu merasa paling berkuasa. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang melayani. Kuatkan bangunan rumah tangganya dengan komitmen kejujuran dan keterbukaan. Apa pun masalahnya, sekecil apa pun masalahnya jangan disembunyikan, jangan ditutup-tutupi, sebaliknya; jujurlah dan kemudian dimusyawarahkan. 

Insya Allah, benih-benih surga ini telah kita tanam sejak di dunia, sehingga kelak kita akan memanen hasilnya di surga akhirat sana. Semoga. Wallahu a’lam bis-Shawab.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Membangun Surga di Dunia

0 komentar:

Post a Comment