Membangun Surga di Dunia
Apa yang terbenak saat kita
mendengar kata ‘surga’? Saya menduga, kata ‘surga’ dekat dengan akhirat, dapat
dirasakan hanya nanti saat kita telah mati, itu pun kalau amal ibadah serta
kebaikan kita banyak, diterima oleh-Nya. Saya tidak hendak menyalahkan, tetapi
ingin melengkapi anggapan dan keyakinan kita, karena surga bisa kita bangun di
dunia. Apa benar bisa? Jawabannya tentu saja, bisa!
Kita, adalah manusia, perempuan
maupun laki-laki, sebagai makhluk Allah yang sangat mulia. Kemuliaan manusia
karena bentuk penciptaannya terbaik dan sempurna ketimbang makhluk ciptaan
Allah lainnya. Allah sama-sama menganugerahkan akal pikiran dan hati kepada
perempuan dan laki-laki. Allah juga memberikan kesempatan yang sama untuk kita
agar dapat menumpahkan segala potensi seoptimal mungkin.
Di tengah arus canggihnya
teknologi dan globalisasi, efek negatifnya begitu dekat, selain efek
positifnya. Berkat teknologi, terutama internet dan hand phone, akses kita
untuk menjelajah dunia sangat mudah. Tetapi di saat yang sama, efek negatif
dari internet pun begitu nyata. Pergaulan bebas, perdagangan manusia, penipuan
dan berbagai efek negatif lainnya.
Dalam rangka membangun surga di
dunia, kita, terutama para kaum muda Muslim-Muslimah, agar memanfaatkan masa
muda ini dengan sebaik mungkin. Menjadi kaum muda yang kreatif dan mandiri.
Membaca, menulis dan diskusi menjadi aktivitas yang dibiasakan. Tanpa tiga
aktivitas ini, saya khawatir kaum muda kita akan jauh tertinggal dan terbelakang.
Berikut juga ikhtiar untuk sukses semuda mungkin. Hidup produktif, penuh dengan
karya dan pengabdian.
Ibarat bangunan, sebelum
mendirikan bangunan itu kita memerlukan fondasi dan berbagai macam bahan
bangunan; pasir, batu, batu bata, besi dan lainnya. Nah, aktivitas bermanfaat
seperti membaca, menulis, diskusi dan serangkaian ikhtiar lain inilah yang akan
mampu menciptakan kenikmatan surga di dunia. Hidup kita berjalan dengan ilmu.
Hidup kita bermanfaat bagi sesama.
Surga itu sepenuhnya kebaikan,
saat kita ingin membangun surga, bangunlah dengan banyak melakukan kebaikan.
Surga di dunia akan menjadi bekal untuk membangun surga di akhirat. Generasi
muslim muda kita harus cerdas. Kita harus saling berbuat baik. Tidak boleh
saling menjatuhkan. Sebab kita saling membutuhkan.
Menjadilah laki-laki muslim
yang ramah terhadap perempuan muslimah. Kita tidak boleh merasa paling unggul
dan berkuasa. Sebab, perempuan dan laki-laki punya hak yang sama untuk
berkiprah memakmurkan kehidupan di dunia. Sebelum atau pun sesudah menikah,
perempuan tetap mulia dan harus dimulikan. Ia boleh berkiprah di wilayah
domestik maupun publik. Perempuan yang telah menikah pun boleh berkarir, bukan
untuk menyaingi suaminya, tetapi niat untuk beribadah dan untuk mewujudkan rasa
syukur kepada Allah atas segala nikmat.
Termasuk anggapan semacam ini;
perempuan itu cerewet, perempuan itu dekat dengan syetan, perempuan itu fitnah,
perempuan itu tempatnya neraka, perempuan itu akalnya lemah, perempuan itu
agamanya kurang dan lain sejenisnya; tidaklah benar. Islam tidak pernah mencap
perempuan seperti demikian. Islam justru sebaliknya, selalu memuliakan
perempuan.
Inilah beberapa pesan saya
untuk segenap Muslim-Muslimah; pertama, bagi yang masih remaja dan masih
dalam masa belajar, pergunakan waktu remajamu dengan sebaik mungkin. Habiskan
masa remajamu untuk sepenuhnya belajar agar berprestasi. Jangan terbuai pacaran
dan pergaulan bebas. Hampir tidak ada satu pun manfaat pacaran. Pacaran zaman
sekarang sudah kelewat batas. Ingat kalian itu manusia yang Allah ciptakan
dengan terhormat dan mahal, jangan kalian ‘jual’ harga diri kalian dengan
murah. Jangan sampai kalian menyesal.
Kedua, bagi
yang sedang begitu menantikan calon jodoh dan ingin segera menikah. Sabar dan
tawakal-lah selalu kepada Allah. Tidak usah gengsi, ukurannya jangan manusia.
Jangan pesimis, jangan galau hanya karena diberendel dengan pertanyaan kapan
nikah? Pikiran kita harus tetap positif, aminkan saja semuanya agar menjadi
kebaikan dan kenyataan.
Ketiga, bagi
yang sedang dalam masa rumah tangga, menjadilah suami yang ramah istri. Jangan
mau jadi suami yang maunya cuma dilayani. Jadilah suami yang mau bersama
mengurus rumah tangga, suami yang rendah hati dan tidak selalu merasa paling
berkuasa. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang melayani. Kuatkan bangunan
rumah tangganya dengan komitmen kejujuran dan keterbukaan. Apa pun masalahnya,
sekecil apa pun masalahnya jangan disembunyikan, jangan ditutup-tutupi,
sebaliknya; jujurlah dan kemudian dimusyawarahkan.
Insya Allah, benih-benih surga
ini telah kita tanam sejak di dunia, sehingga kelak kita akan memanen hasilnya
di surga akhirat sana. Semoga. Wallahu a’lam bis-Shawab.
0 komentar:
Post a Comment