Beban Ganda
“Sehubungan dengan mulai banyaknya postingan
yang menyudutkan istri/ibu bekerja, saya jadi ingin ikut bersuara. Ibu bekerja
bukan berarti perempuan yang melalaikan keluarga, sibuk merawat diri, membeli
barang-barang branded dan cream wajah harga ratusan ribu. Banyak ibu bekerja yang
bangun pagi buta untuk menyiapkan sarapan, meyempatkan diri mengantar jemput
anak dan menemani anak bermain di waktu senggang, memasak untuk makan makan
siang dan malam, dan bahkan meski menghasilkan uang dari keringatnya sendiri tapi tetap meminta izin suami untuk sekadar membeli
tas kerja yang harganya masih lebih murah dari harga baju anak-anak. Banyak ibu
bekerja yang sayang memakai gajinya untuk keperluan dirinya sendiri. Jangan
juga mengira ibu bekerja lebih rela menitipkan anaknya pada orang lain daripada
perhiasan emas, coba lihat kamarnya, pasti perhiasannya juga tergeletak begitu
saja (yang ini sih saya banget). Jadi, baik bekerja maupun tidak sama-sama
memperjuangkan keluarga dan menempatkan keluarga di atas segalanya.”
Satu lagi, saya kutip satu status facebook seorang
teman, seorang ibu, seorang istri yang sedang dalam kondisi ibu rumah tangga,
sekaligus ibu karir. Disadari atau tidak, ini yang disebut dengan beban ganda (double
burden). Mari kita merenung. Di tengah beban berat yang diemban oleh istri,
di sebrang sana justru ada yang mencibir dan menyepelakannya. Energi kita tak
boleh habis untuk meladeni siapa pun yang suka mencibir dan menyepelekan.
Sekadar bertanya, sejak kapan urusan rumah
tangga dan anak itu sepenuhnya menjadi tugas istri/ibu seorang diri? Yakinkah
jika Islam mewajibkan urusan rumah tangga dan mendidik anak hanya pada
istri/ibu saja dan tidak pada suami/istri? Bagaimana akhlak Rasulullah ketika
menjadi laki-laki sebagai suami maupun ayah?
Kalau mau merujuk pada 4 imam mazhab, urusan
rumah tangga dan anak justru lebih menjadi tugas suami daripada istri. Namun
memang, adat dan tradisi kita, di Indonesia, biasanya urusan rumah tangga dan
anak lebih dibebankan kepada istri saja. Padahal, kalau kita merujuk pada
Rasulullah, beliau adalah tipikal suami yang senang dan sering meringankan
beban istrinya dalam mengerjakan urusan rumah tangga. Rasul yang melayani
keperluannya sendiri, misalnya ketika menambal sandalnya yang rusak, memerah
susu, menjahit bajunya yang robek dan lainnya. Rasul juga tipikal ayah yang
menyukai anak-anaknya. Bermain dan bercanda. Beliau pun sampai begitu sayang
pada cucu-cucunya.
Bekerja/berkarir bagi istri hukumnya boleh saja,
apalagi jika diniati ibadah maka berpahala. Istri bekerja bukan karena
bermaksud untuk menyaingi suami. Istri bekerja, suami bekerja, tidak ada
masalah. Istri mengurus rumah tangga, suami juga wajib ikut mengurus rumah
tangga. Jika selama ini hanya istri yang banyak meluangkan waktu untuk mendidik
anak, kini saatnya suami menyeimbangkan tugas bersama istri dalam mendidik
anak.
Islam itu begitu lengkap. Islam adalah agama
keseimbangan. Dalam konteks rumah tangga, prinsip keseimbangan sangat dijunjung tinggi dalam
Islam. Istri dan suami saling melengkapi, karena keduanya sadar, saling punya
kelebihan dan kekurangan. Kalau mau bercermin kepada Rasul, beliaulah yang
justru menanggung beban ganda. Beliau mengurus rumah tangga, mendidik anak,
selain juga memimpin dan melayani umat.
Nah, untuk itulah, menjadi ibu rumah tangga dan
ibu karir itu pilihan, apa pun pilihannya patut kita hargai. Kita tidak boleh
saling mencibir, merasa paling baik, apalagi menyalahkan perempuan/istri/ibu
yang sedang berkarir atau menjadi ibu rumah tangga.
Mari kita renungkan komentar berikut:
“Hmmm bukannya mau
nyanggah sih, karena dulu saya berfikir seperti itu, tapi kan balik lagi selama
suami bisa menafkahi keluarga dengan cukup, isteri cukuplah menjadi ratu di
istananya, beda halnya maaf jikalau suami sudah tidak menafkahi atau "kurang"
dalam menafkahi barulah isteri dengan ijin suami membantu financial, bukan sok
pinter apalagi saya orang fakir agamanya, saya hanya coba ikhlas, ya perempuan
itu surga dunia akhiratnya ya jadi ratu di rumah. Salam santun.”
Sepintas komentar ini tampak sangat mulia. Memang
ada dan nyata. Tidak jarang, para istri yang sedang dalam kondisi bekerja,
kemudian mendadak berhenti untuk tidak bekerja lagi, karena akan fokus mengurus
rumah tangga dan anak saja. Kita yakin, ini sebuah pilihan yang baik, tetapi
bukan karena alasan bahwa istri yang bekerja itu bukan berarti istri yang tega meninggalkan
keluarga dan tidak mau mengurus rumah tangga.
Kini, sikap rendah hati, kedewasaan dan
kebijaksaan tertuju kepada suami agar tidak menjadi suami yang tidak mudah
melarang-larang. Menjadi suami yang mau meneladani Nabi, suami yang mau bersama
mengurus rumah tangga dan mendidik anak bersama istri. Suka dan duka dijalani
bersama dengan selalu menempuh jalan musyawarah, jujur dan terbuka. Insya Allah.
0 komentar:
Post a Comment