Ikhtiar Memanusiakan Manusia

Thursday, December 10, 2015

Beban Ganda



Beban Ganda

 Hasil gambar untuk istri berkarir

Sehubungan dengan mulai banyaknya postingan yang menyudutkan istri/ibu bekerja, saya jadi ingin ikut bersuara. Ibu bekerja bukan berarti perempuan yang melalaikan keluarga, sibuk merawat diri, membeli barang-barang branded dan cream wajah harga ratusan ribu. Banyak ibu bekerja yang bangun pagi buta untuk menyiapkan sarapan, meyempatkan diri mengantar jemput anak dan menemani anak bermain di waktu senggang, memasak untuk makan makan siang dan malam, dan bahkan meski menghasilkan uang dari keringatnya sendiri tapi tetap meminta izin suami untuk sekadar membeli tas kerja yang harganya masih lebih murah dari harga baju anak-anak. Banyak ibu bekerja yang sayang memakai gajinya untuk keperluan dirinya sendiri. Jangan juga mengira ibu bekerja lebih rela menitipkan anaknya pada orang lain daripada perhiasan emas, coba lihat kamarnya, pasti perhiasannya juga tergeletak begitu saja (yang ini sih saya banget). Jadi, baik bekerja maupun tidak sama-sama memperjuangkan keluarga dan menempatkan keluarga di atas segalanya.”

Satu lagi, saya kutip satu status facebook seorang teman, seorang ibu, seorang istri yang sedang dalam kondisi ibu rumah tangga, sekaligus ibu karir. Disadari atau tidak, ini yang disebut dengan beban ganda (double burden). Mari kita merenung. Di tengah beban berat yang diemban oleh istri, di sebrang sana justru ada yang mencibir dan menyepelakannya. Energi kita tak boleh habis untuk meladeni siapa pun yang suka mencibir dan menyepelekan.

Sekadar bertanya, sejak kapan urusan rumah tangga dan anak itu sepenuhnya menjadi tugas istri/ibu seorang diri? Yakinkah jika Islam mewajibkan urusan rumah tangga dan mendidik anak hanya pada istri/ibu saja dan tidak pada suami/istri? Bagaimana akhlak Rasulullah ketika menjadi laki-laki sebagai suami maupun ayah?

Kalau mau merujuk pada 4 imam mazhab, urusan rumah tangga dan anak justru lebih menjadi tugas suami daripada istri. Namun memang, adat dan tradisi kita, di Indonesia, biasanya urusan rumah tangga dan anak lebih dibebankan kepada istri saja. Padahal, kalau kita merujuk pada Rasulullah, beliau adalah tipikal suami yang senang dan sering meringankan beban istrinya dalam mengerjakan urusan rumah tangga. Rasul yang melayani keperluannya sendiri, misalnya ketika menambal sandalnya yang rusak, memerah susu, menjahit bajunya yang robek dan lainnya. Rasul juga tipikal ayah yang menyukai anak-anaknya. Bermain dan bercanda. Beliau pun sampai begitu sayang pada cucu-cucunya.

Bekerja/berkarir bagi istri hukumnya boleh saja, apalagi jika diniati ibadah maka berpahala. Istri bekerja bukan karena bermaksud untuk menyaingi suami. Istri bekerja, suami bekerja, tidak ada masalah. Istri mengurus rumah tangga, suami juga wajib ikut mengurus rumah tangga. Jika selama ini hanya istri yang banyak meluangkan waktu untuk mendidik anak, kini saatnya suami menyeimbangkan tugas bersama istri dalam mendidik anak.

Islam itu begitu lengkap. Islam adalah agama keseimbangan. Dalam konteks rumah tangga, prinsip  keseimbangan sangat dijunjung tinggi dalam Islam. Istri dan suami saling melengkapi, karena keduanya sadar, saling punya kelebihan dan kekurangan. Kalau mau bercermin kepada Rasul, beliaulah yang justru menanggung beban ganda. Beliau mengurus rumah tangga, mendidik anak, selain juga memimpin dan melayani umat.

Nah, untuk itulah, menjadi ibu rumah tangga dan ibu karir itu pilihan, apa pun pilihannya patut kita hargai. Kita tidak boleh saling mencibir, merasa paling baik, apalagi menyalahkan perempuan/istri/ibu yang sedang berkarir atau menjadi ibu rumah tangga.

Mari kita renungkan komentar berikut:

Hmmm bukannya mau nyanggah sih, karena dulu saya berfikir seperti itu, tapi kan balik lagi selama suami bisa menafkahi keluarga dengan cukup, isteri cukuplah menjadi ratu di istananya, beda halnya maaf jikalau suami sudah tidak menafkahi atau "kurang" dalam menafkahi barulah isteri dengan ijin suami membantu financial, bukan sok pinter apalagi saya orang fakir agamanya, saya hanya coba ikhlas, ya perempuan itu surga dunia akhiratnya ya jadi ratu di rumah. Salam santun.”

Sepintas komentar ini tampak sangat mulia. Memang ada dan nyata. Tidak jarang, para istri yang sedang dalam kondisi bekerja, kemudian mendadak berhenti untuk tidak bekerja lagi, karena akan fokus mengurus rumah tangga dan anak saja. Kita yakin, ini sebuah pilihan yang baik, tetapi bukan karena alasan bahwa istri yang bekerja itu bukan berarti istri yang tega meninggalkan keluarga dan tidak mau mengurus rumah tangga.

Kini, sikap rendah hati, kedewasaan dan kebijaksaan tertuju kepada suami agar tidak menjadi suami yang tidak mudah melarang-larang. Menjadi suami yang mau meneladani Nabi, suami yang mau bersama mengurus rumah tangga dan mendidik anak bersama istri. Suka dan duka dijalani bersama dengan selalu menempuh jalan musyawarah, jujur dan terbuka.  Insya Allah.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Beban Ganda

0 komentar:

Post a Comment