Kata Siapa
Perempuan tidak Bisa Memimpin?
“Sejagoan apa pun anak perempuanmu, setelah
menikah dia ingin dipimpin. Semanja apapun jagoan cilikmu, setelah menikah, dia
wajib memimpin. Fatal jika posisi tertukar. Anak-anak
akan menjadi korban. Kelak yang wanita gagal menghormati pasangannya, karena
tumbuh dari ibu yang dominan dan ayah yang sembunyi dari peran.”
Itu pernyataan yang saya kutip dari
status salah seorang teman perempuan, seorang ibu, di facebook. Entah apa maksud sebenarnya. Pikiran
dan hati saya kaget bercampur aneh. Sejumlah tanda tanya menumpuk dibenak saya.
Padahal, Allah menciptakan manusia, perempuan dan laki-laki dalam bentuk yang
paling baik. Keduanya dianugerahi potensi yang sama.
Saya juga kerap mendapat aduan dari
beberapa pembaca; ada siswi yang hendak mencalonkan diri menjadi ketua OSIS,
tetapi itikadnya dihadang, lantaran ia seorang perempuan. Ada seorang ibu yang
hendak diusung sebagian masyarakat untuk menjadi kepala desa, hanya karena
perempuan, sebagian orang lain melarang. Kenyataan demi kenyataan seperti ini
masih sering terjadi.
Bagi saya, perempuan itu mulia
sebagaimana laki-laki. Perempuan, sepenuhnya punya kesempatan yang sama dalam
mengeksplorasi potensi dirinya dalam kehidupan keluarga dan sosialnya. Tidak
boleh ada seorang pun yang mencegahnya. Sebelum atau sesudah menikah, kemuliaan
perempuan sebagai makhluk ciptaan-Nya, sedikit pun tidak berkurang. Anak yang
lahir, berjenis kelamin perempuan maupun laki-laki pun sama-sama dimuliakan.
Terkait dengan kepemimpinan di rumah,
antara istri dan suami, bukanlah masalah. Kenapa ya, selalu ada saja kesan
bahwa perempuan itu harus selalu lebih rendah dari laki-laki. Istri harus
selalu menuruti di bawah komando suami. Ini kenapa? Apakah hanya karena istri
berjenis kelamin perempuan? Apakah karena istri akalnya lemah? Apakah karena
perempuan agamanya kurang? Atau apa?
Orang tua memegang peranan penting dalam
proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Orang tua mesti mampu membaca potensi
anak. Tugas orang tua adalah untuk mengembangkan, bukan mengekang bakat anak.
Anak perempuan dan laki-laki punya kesempatan yang sama untuk mengembangkan
bakatnya. Orang tua harus mendidik anaknya dengan baik, sebagai wujud rasa
syukur atas anugerah dari Allah.
Orang tua tidak boleh minder, apalagi
menciutkan potensi, bakat dan kemampuan anak. Terutama anak perempuan. Anak
perempuan juga bisa menjadi hebat. Sebagaimana anak laki-laki, anak perempuan
juga dibekali oleh Allah jiwa kepemimpinan. Anak perempuan juga perlu
diteguhkan jiwa kepemimpinannya agar karakternya terbentuk. Minimalnya agar ia
bisa memimpin dirinya sendiri.
Lebih dari itu, anak perempuan juga punya
kesempatan yang sama untuk menempuh berbagai jenjang pendidikan. Para orang tua
tidak boleh lagi terjerumus ke dalam anggapan yang biasanya menyatakan ‘setinggi
apa pun pendidikan perempuan, akhirnya akan ke dapur juga.’ Pernyataan itu
harus kita buang jauh-jauh, jika hanya dimakai sebagai pernyataan yang
hendak menyudutkan perempuan.
Banyak bukti jika perempuan pun bisa
memimpin, baik dalam keluarga, lembaga maupun Negara. Tidak jarang, meskipun
kepala keluarganya laki-laki/suami, tetapi yang punya kemampuan untuk mengelola
itu perempuan/istri. Kita juga pernah dipimpin oleh presiden perempuan. Untuk
menyebut salah satu saja, Siti Aisyah, adalah salah seorang Muslimah, istri
Nabi, yang pernah memimpin perang.
Jadi, berhentilah melemahkan potensi dan
keberadaan perempuan!

0 komentar:
Post a Comment