Ikhtiar Memanusiakan Manusia

Friday, December 4, 2015

Kata Siapa Perempuan tidak Bisa Memimpin?



Kata Siapa Perempuan tidak Bisa Memimpin?
 


Sejagoan apa pun anak perempuanmu, setelah menikah dia ingin dipimpin. Semanja apapun jagoan cilikmu, setelah menikah, dia wajib memimpin. Fatal jika posisi tertukar. Anak-anak akan menjadi korban. Kelak yang wanita gagal menghormati pasangannya, karena tumbuh dari ibu yang dominan dan ayah yang sembunyi dari peran.”

Itu pernyataan yang saya kutip dari status salah seorang teman perempuan, seorang ibu, di facebook. Entah apa maksud sebenarnya. Pikiran dan hati saya kaget bercampur aneh. Sejumlah tanda tanya menumpuk dibenak saya. Padahal, Allah menciptakan manusia, perempuan dan laki-laki dalam bentuk yang paling baik. Keduanya dianugerahi potensi yang sama.

Saya juga kerap mendapat aduan dari beberapa pembaca; ada siswi yang hendak mencalonkan diri menjadi ketua OSIS, tetapi itikadnya dihadang, lantaran ia seorang perempuan. Ada seorang ibu yang hendak diusung sebagian masyarakat untuk menjadi kepala desa, hanya karena perempuan, sebagian orang lain melarang. Kenyataan demi kenyataan seperti ini masih sering terjadi.

Bagi saya, perempuan itu mulia sebagaimana laki-laki. Perempuan, sepenuhnya punya kesempatan yang sama dalam mengeksplorasi potensi dirinya dalam kehidupan keluarga dan sosialnya. Tidak boleh ada seorang pun yang mencegahnya. Sebelum atau sesudah menikah, kemuliaan perempuan sebagai makhluk ciptaan-Nya, sedikit pun tidak berkurang. Anak yang lahir, berjenis kelamin perempuan maupun laki-laki pun sama-sama dimuliakan.

Terkait dengan kepemimpinan di rumah, antara istri dan suami, bukanlah masalah. Kenapa ya, selalu ada saja kesan bahwa perempuan itu harus selalu lebih rendah dari laki-laki. Istri harus selalu menuruti di bawah komando suami. Ini kenapa? Apakah hanya karena istri berjenis kelamin perempuan? Apakah karena istri akalnya lemah? Apakah karena perempuan agamanya kurang? Atau apa?

Orang tua memegang peranan penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Orang tua mesti mampu membaca potensi anak. Tugas orang tua adalah untuk mengembangkan, bukan mengekang bakat anak. Anak perempuan dan laki-laki punya kesempatan yang sama untuk mengembangkan bakatnya. Orang tua harus mendidik anaknya dengan baik, sebagai wujud rasa syukur atas anugerah dari Allah.

Orang tua tidak boleh minder, apalagi menciutkan potensi, bakat dan kemampuan anak. Terutama anak perempuan. Anak perempuan juga bisa menjadi hebat. Sebagaimana anak laki-laki, anak perempuan juga dibekali oleh Allah jiwa kepemimpinan. Anak perempuan juga perlu diteguhkan jiwa kepemimpinannya agar karakternya terbentuk. Minimalnya agar ia bisa memimpin dirinya sendiri.

Lebih dari itu, anak perempuan juga punya kesempatan yang sama untuk menempuh berbagai jenjang pendidikan. Para orang tua tidak boleh lagi terjerumus ke dalam anggapan yang biasanya menyatakan ‘setinggi apa pun pendidikan perempuan, akhirnya akan ke dapur juga.’ Pernyataan itu harus kita buang jauh-jauh, jika hanya dimakai sebagai pernyataan yang hendak menyudutkan perempuan.

Banyak bukti jika perempuan pun bisa memimpin, baik dalam keluarga, lembaga maupun Negara. Tidak jarang, meskipun kepala keluarganya laki-laki/suami, tetapi yang punya kemampuan untuk mengelola itu perempuan/istri. Kita juga pernah dipimpin oleh presiden perempuan. Untuk menyebut salah satu saja, Siti Aisyah, adalah salah seorang Muslimah, istri Nabi, yang pernah memimpin perang.

Jadi, berhentilah melemahkan potensi dan keberadaan perempuan!


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Kata Siapa Perempuan tidak Bisa Memimpin?

0 komentar:

Post a Comment