Ikhtiar Memanusiakan Manusia

Sunday, December 6, 2015

Kejujuran, Kesalingan, Kerendah-hatian



Kejujuran, Kesalingan, Kerendah-hatian

 
 Nggak. Kalau aku taat dan bersikap nerimo sama suami, suami kok sikapnya jadi seenaknya. Bikin sakit hati mbak.”

Yuk kita renungkan, kita maknai lagi salah satu komentar seorang istri, seorang ibu di facebook. Komentarnya singkat, lugas, mudah dipahami dan alami alias tidak mengada-ada. Saya juga sering mendapatkan laporan sejenis itu dari jamaah. Bagi sebagian besar dari kita, terutama para istri, mungkin akan aneh mendapati komentar seperti ibu ini. Tetapi itulah nyatanya, ada dan bahkan banyak terjadi, tetapi sering ditutup-tutupi.

Kita, para kaula muda, khususnya para istri dan suami mesti melakukan revolusi pemahaman tentang makna pernikahan, jalinan rumah tangga dan kepemimpinan. Kalau tidak, efek buruk budaya patriarkhi akan semakin menjadi. Pernikahan itu bukan akad membeli, bukan akad menguasai perempuan oleh laki-laki. Itu artinya, melalui akad pernikahan, kelak suami jangan sampai merasa paling di atas, paling berkuasa, paling hebat dari istrinya.

Kita juga mesti merenungkan kembali makna rumah tangga. Istri dan suami adalah dua komponen penting dalam rumah tangga. Tidak ada yang utama, sementara yang lain pelengkap. Suami tidak menjadi utama, sementara istri pelengkap saja. Rumah tangga yang dikonsepkan Islam, adalah ikhtiar menjalin relasi yang seimbang antara istri dan suami. Kedudukan istri dan suami sama-sama mulia.

Dalam adat masyarakat kita, terutama di Jawa Barat, suami akan menjadi kepala rumah tangga. Itu artinya istri wajib taat apa pun kata suami. Sudah terekam berabad lama sebuah pemahaman yang mengharuskan istri selamanya harus tunduk pada suami, istri sebaik apa pun, kalau tidak direstui suami, semuanya tidak berarti. Akhirnya yang ada, para istri ketakutan. Takut suami ngambek, takut suami marah, takut suami menganggap dirinya durhaka.

Anggapan itu diperparah, bahwa perempuan itu fitnah, perempuan itu dekat dengan syetan, perempuan itu nafsunya besar, perempuan itu akalnya kurang, perempuan itu agamanya lemah, perempuan itu banyak yang masuk neraka dan masih banyak lagi. Padahal anggapan ini tidak pernah digariskan dalam Islam. Akhirnya, meskipun banyak perempuan atau istri yang hebat, tetapi karena pengaruh anggapan negatif ini, mereka ciut dan serba ketakutan.

Ujung-ujungnya, para istri tak berdaya, mereka pun berusaha menghibur diri. Yang paling mutakhir, para istri menghibur diri melalui media sosial, dengan harapan mendapat simpati dan persetujuan dari para sesama istri. Seolah-olah, semakin banyak yang simpati dan menyetujui, maka kegelisahannya dalam rumah tangga selama ini akan terobati.

Seperti pepatah bilang, serapat-rapatnya bangkai ditutupi, baunya akan terendus juga. Ada saja ‘suara-suara’ yang kurang lazim, komentar-komentar jujur, tentang kegeraman para istri menyikapi suaminya. Contoh ‘suara-suara’ jujur seperti yang persis saya kutip seperti di atas. Makanya, saya lebih menghormati kejujuran meskipun pahit daripada kebohongan yang tampak manis dan mendapat banyak simpati.

Rasulullah memang pemimpin dalam rumah tangga dan keluarganya, tetapi beliau menerapkan kejujuran, kesalingan dan kerendah-hatian. Secara adat dan formal, Rasulullah menjadi pemimpin rumah tangga, tetapi dalam memerankan kepemimpinannya, itu atas dasar banyak masukan dan peran dari istrinya. Rasululullah itu jujur bahwa ia perlu bantuan dari istrinya agar kepemimpinannya dalam rumah tangga menjadi kokoh. Rasulullah dan istrinya akhirnya terus saling melengkapi. Itulah wujud suami yang rendah hati.

Mengingat tidak semua suami akhlaknya seperti Rasulullah, apalagi di tengah budaya patriarkhi (budaya yang selalu menganggap unggul laki-laki), di dalam masyarakat marak terjadi para suami yang berlaku sewenang-wenang kepada istrinya. Na’uzubillah.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Kejujuran, Kesalingan, Kerendah-hatian

0 komentar:

Post a Comment