Kejujuran, Kesalingan, Kerendah-hatian

“Nggak. Kalau aku
taat dan bersikap nerimo sama suami, suami kok sikapnya jadi seenaknya. Bikin
sakit hati mbak.”
Yuk kita renungkan, kita
maknai lagi salah satu komentar seorang istri, seorang ibu di facebook. Komentarnya
singkat, lugas, mudah dipahami dan alami alias tidak mengada-ada. Saya juga
sering mendapatkan laporan sejenis itu dari jamaah. Bagi sebagian besar dari
kita, terutama para istri, mungkin akan aneh mendapati komentar seperti ibu
ini. Tetapi itulah nyatanya, ada dan bahkan banyak terjadi, tetapi sering
ditutup-tutupi.
Kita, para kaula muda,
khususnya para istri dan suami mesti melakukan revolusi pemahaman tentang makna
pernikahan, jalinan rumah tangga dan kepemimpinan. Kalau tidak, efek buruk budaya
patriarkhi akan semakin menjadi. Pernikahan itu bukan akad membeli, bukan akad
menguasai perempuan oleh laki-laki. Itu artinya, melalui akad pernikahan, kelak
suami jangan sampai merasa paling di atas, paling berkuasa, paling hebat dari
istrinya.
Kita juga mesti
merenungkan kembali makna rumah tangga. Istri dan suami adalah dua komponen
penting dalam rumah tangga. Tidak ada yang utama, sementara yang lain
pelengkap. Suami tidak menjadi utama, sementara istri pelengkap saja. Rumah
tangga yang dikonsepkan Islam, adalah ikhtiar menjalin relasi yang seimbang
antara istri dan suami. Kedudukan istri dan suami sama-sama mulia.
Dalam adat masyarakat
kita, terutama di Jawa Barat, suami akan menjadi kepala rumah tangga. Itu
artinya istri wajib taat apa pun kata suami. Sudah terekam berabad lama sebuah
pemahaman yang mengharuskan istri selamanya harus tunduk pada suami, istri
sebaik apa pun, kalau tidak direstui suami, semuanya tidak berarti. Akhirnya
yang ada, para istri ketakutan. Takut suami ngambek, takut suami marah, takut
suami menganggap dirinya durhaka.
Anggapan itu diperparah,
bahwa perempuan itu fitnah, perempuan itu dekat dengan syetan, perempuan itu
nafsunya besar, perempuan itu akalnya kurang, perempuan itu agamanya lemah,
perempuan itu banyak yang masuk neraka dan masih banyak lagi. Padahal anggapan
ini tidak pernah digariskan dalam Islam. Akhirnya, meskipun banyak perempuan
atau istri yang hebat, tetapi karena pengaruh anggapan negatif ini, mereka ciut
dan serba ketakutan.
Ujung-ujungnya, para
istri tak berdaya, mereka pun berusaha menghibur diri. Yang paling mutakhir,
para istri menghibur diri melalui media sosial, dengan harapan mendapat simpati
dan persetujuan dari para sesama istri. Seolah-olah, semakin banyak yang
simpati dan menyetujui, maka kegelisahannya dalam rumah tangga selama ini akan
terobati.
Seperti pepatah bilang,
serapat-rapatnya bangkai ditutupi, baunya akan terendus juga. Ada saja
‘suara-suara’ yang kurang lazim, komentar-komentar jujur, tentang kegeraman
para istri menyikapi suaminya. Contoh ‘suara-suara’ jujur seperti yang persis
saya kutip seperti di atas. Makanya, saya lebih menghormati kejujuran meskipun
pahit daripada kebohongan yang tampak manis dan mendapat banyak simpati.
Rasulullah memang
pemimpin dalam rumah tangga dan keluarganya, tetapi beliau menerapkan
kejujuran, kesalingan dan kerendah-hatian. Secara adat dan formal, Rasulullah
menjadi pemimpin rumah tangga, tetapi dalam memerankan kepemimpinannya, itu
atas dasar banyak masukan dan peran dari istrinya. Rasululullah itu jujur bahwa
ia perlu bantuan dari istrinya agar kepemimpinannya dalam rumah tangga menjadi
kokoh. Rasulullah dan istrinya akhirnya terus saling melengkapi. Itulah wujud
suami yang rendah hati.
Mengingat tidak semua
suami akhlaknya seperti Rasulullah, apalagi di tengah budaya patriarkhi (budaya
yang selalu menganggap unggul laki-laki), di dalam masyarakat marak terjadi
para suami yang berlaku sewenang-wenang kepada istrinya. Na’uzubillah.
0 komentar:
Post a Comment