Kualitas Pemimpin Perempuan
Mamang
Muhamad Haerudin
Belum lama ini
sebuah program televisi swasta nasional menghadirkan sosok pemimpin perempuan
inspiratif, ia adalah Tri Rismaharini, biasa disapa Bu Risma, seorang Walikota
perempuan di Surabaya, Jawa Timur. Ia, kini, terus menjadi buah bibir
masyarakat nyata dan maya. Tak lekang di jejaring sosial facebook dan twitter,
berbagai dukungan moril mengalir agar ia terus tegar dalam masa kepemimpinannya
menjadi Walikota, yang sempat dikabarkan hendak mengundurkan diri lantaran ancaman
datang dari sana-sini, selain juga miris terhadap sistem politik yang rusak.
Bu Risma menjadi
anugerah tersendiri bagi kita, bangsa Indonesia, alih-alih menegakkan reformasi
dan demokrasi sejak 1998 hingga 2014 ini, yang ada justru praktik koruptif dan
manipulasi semakin merajalela. Ia menjadi semacam pelipur lara hati rakyat,
setelah sekian lama disakiti oleh kebanyakan pihak yang mengaku pemimpin dan
wakil rakyat, tetapi keberpihakannya pada rakyat nol dan isapan jempol.
Seharusnya,
kepemimpinan Bu Risma ini menjadi tamparan bagi siapa saja, terutama para
pejabat ‘bejat’, bahwa memimpin dan mewakili rakyat menuju kehidupan adil dan
sejahtera itu tak mudah membalikkan telapak tangan yang hanya bermodalkan obral
janji-janji palsu dan omongan sampah lainnya.
Perempuan Bisa Memimpin
Bu Risma adalah
fenomena unik sekaligus langka di negeri ini. Reformasi untuk demokrasi yang
selama ini digembor-gemborkan tak lebih hanya isap jempol belaka. Korupsi,
kolusi, dan nepotisme, makin menjadi. Kemiskinan, pengangguran, konflik sosial,
dan sejumlah problem kemanusiaan lainnya juga semakin menumpuk dan mewabah.
Bu Risma bak
angin segar, mampu menyejukkan masyarakat dari panasnya politik manipulatif.
Fakta ini membuktikan bahwa perempuan bisa memimpin. Perempuan yang acap kali
dianggap sebagai makhluk lemah, cerewet, kurang akalnya, dan anggapan negatif
lain sejenisnya, terbantah sudah.
Jujur, saya
terhenyak tatkala merenungi perjuangan Bu Risma dalam menegakkan keadilan,
kejujuran, dan kesejahteraan. Dalam diri Bu Risma mendarahdaging spirit
kepemimpinan sahabat Rasul, Umar bin Khattab. Sahabat yang tak mau diam,
pikiran dan hatinya selalu gelisah, mencari-cari masyarakat yang membutuhkan
pertolongannya. Tak kenal panas dan hujan. Spirit inilah yang dipraktikkan oleh
Bu Risma dalam kepemimpinannya sejak terpilih tahun 2010 silam.
Sebagian pihak
mungkin menganggap keterkesanan saya ini sebagai efek dari media yang terus
mengekspos sosok Bu Risma. Maka tak lebih apa yang diperbuat oleh Bu Risma hanyalah
pencitraan dan kamuflase belaka. Tidak! Saya tak habis pikir, jika ada pihak
yang beranggapan demikian. Bukan sekedar karena lebih dari 50 penghargaan telah
ia raih, melainkan karena kerja keras dan kerja cerdasnya yang begitu nyata.
Kualitas Versus Jenis Kelamin
Demikian maka,
kepemimpinan bukanlah urusan jenis kelamin, laki-laki atau perempuan.
Kepemimpinan adalah ihwal kapasitas dan kualitas. Jadi, tak ada berkaitan
antara kepemimpinan dan jenis kelamin. Dan sekali lagi, Bu Risma adalah bukti
nyatanya.
Dalam pada itu,
siapapun masyarakat Indonesia, yang punya kapasitas dan kualitas sebagai
pemimpin, maka dia berhak untuk memimpin. Tak peduli jenis kelamin, suku,
bahasa, bahkan agamanya apa sekali pun. Kita mesti mengedepankan kualitas bukan
jenis kelamin.
Tepat kiranya,
pada April 2014 mendatang, di mana pesta demokrasi akan digelar, kita perlu
mendorong dan mendukung para perempuan berkapasitas mumpuni untuk memimpin dan
mewakili rakyat. Tentu saja bukan hanya asal perempuan yang hanya dilihat dari
jenis kelamin atau fisik semata, tetapi karena kapasitas dan kualitasnya
mumpuni.
Semoga Tuhan
berkenan memenangkan dan memperbanyak pemimpin dan wakil rakyat yang mengilhami
spirit kepemimpinan—kerja cerdas, kerja keras, dan kerja ikhlas—sebagaimana
telah diteladankan oleh Bu Risma. Semoga. Wallahu’alam
bi al-Shawab.
perempuan memang hebat
ReplyDeleteBetuuul. :)
ReplyDelete