Ikhtiar Memanusiakan Manusia

Saturday, March 1, 2014

Kualitas Pemimpin Perempuan

Kualitas Pemimpin Perempuan

Mamang Muhamad Haerudin

Belum lama ini sebuah program televisi swasta nasional menghadirkan sosok pemimpin perempuan inspiratif, ia adalah Tri Rismaharini, biasa disapa Bu Risma, seorang Walikota perempuan di Surabaya, Jawa Timur. Ia, kini, terus menjadi buah bibir masyarakat nyata dan maya. Tak lekang di jejaring sosial facebook dan twitter, berbagai dukungan moril mengalir agar ia terus tegar dalam masa kepemimpinannya menjadi Walikota, yang sempat dikabarkan hendak mengundurkan diri lantaran ancaman datang dari sana-sini, selain juga miris terhadap sistem politik yang rusak.
Bu Risma menjadi anugerah tersendiri bagi kita, bangsa Indonesia, alih-alih menegakkan reformasi dan demokrasi sejak 1998 hingga 2014 ini, yang ada justru praktik koruptif dan manipulasi semakin merajalela. Ia menjadi semacam pelipur lara hati rakyat, setelah sekian lama disakiti oleh kebanyakan pihak yang mengaku pemimpin dan wakil rakyat, tetapi keberpihakannya pada rakyat nol dan isapan jempol.
Seharusnya, kepemimpinan Bu Risma ini menjadi tamparan bagi siapa saja, terutama para pejabat ‘bejat’, bahwa memimpin dan mewakili rakyat menuju kehidupan adil dan sejahtera itu tak mudah membalikkan telapak tangan yang hanya bermodalkan obral janji-janji palsu dan omongan sampah lainnya.

Perempuan Bisa Memimpin
Bu Risma adalah fenomena unik sekaligus langka di negeri ini. Reformasi untuk demokrasi yang selama ini digembor-gemborkan tak lebih hanya isap jempol belaka. Korupsi, kolusi, dan nepotisme, makin menjadi. Kemiskinan, pengangguran, konflik sosial, dan sejumlah problem kemanusiaan lainnya juga semakin menumpuk dan mewabah.
Bu Risma bak angin segar, mampu menyejukkan masyarakat dari panasnya politik manipulatif. Fakta ini membuktikan bahwa perempuan bisa memimpin. Perempuan yang acap kali dianggap sebagai makhluk lemah, cerewet, kurang akalnya, dan anggapan negatif lain sejenisnya, terbantah sudah.
Jujur, saya terhenyak tatkala merenungi perjuangan Bu Risma dalam menegakkan keadilan, kejujuran, dan kesejahteraan. Dalam diri Bu Risma mendarahdaging spirit kepemimpinan sahabat Rasul, Umar bin Khattab. Sahabat yang tak mau diam, pikiran dan hatinya selalu gelisah, mencari-cari masyarakat yang membutuhkan pertolongannya. Tak kenal panas dan hujan. Spirit inilah yang dipraktikkan oleh Bu Risma dalam kepemimpinannya sejak terpilih tahun 2010 silam.
Sebagian pihak mungkin menganggap keterkesanan saya ini sebagai efek dari media yang terus mengekspos sosok Bu Risma. Maka tak lebih apa yang diperbuat oleh Bu Risma hanyalah pencitraan dan kamuflase belaka. Tidak! Saya tak habis pikir, jika ada pihak yang beranggapan demikian. Bukan sekedar karena lebih dari 50 penghargaan telah ia raih, melainkan karena kerja keras dan kerja cerdasnya yang begitu nyata.

Kualitas Versus Jenis Kelamin
Demikian maka, kepemimpinan bukanlah urusan jenis kelamin, laki-laki atau perempuan. Kepemimpinan adalah ihwal kapasitas dan kualitas. Jadi, tak ada berkaitan antara kepemimpinan dan jenis kelamin. Dan sekali lagi, Bu Risma adalah bukti nyatanya.
Dalam pada itu, siapapun masyarakat Indonesia, yang punya kapasitas dan kualitas sebagai pemimpin, maka dia berhak untuk memimpin. Tak peduli jenis kelamin, suku, bahasa, bahkan agamanya apa sekali pun. Kita mesti mengedepankan kualitas bukan jenis kelamin.
Tepat kiranya, pada April 2014 mendatang, di mana pesta demokrasi akan digelar, kita perlu mendorong dan mendukung para perempuan berkapasitas mumpuni untuk memimpin dan mewakili rakyat. Tentu saja bukan hanya asal perempuan yang hanya dilihat dari jenis kelamin atau fisik semata, tetapi karena kapasitas dan kualitasnya mumpuni.
Semoga Tuhan berkenan memenangkan dan memperbanyak pemimpin dan wakil rakyat yang mengilhami spirit kepemimpinan—kerja cerdas, kerja keras, dan kerja ikhlas—sebagaimana telah diteladankan oleh Bu Risma. Semoga. Wallahu’alam bi al-Shawab.
                             

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Kualitas Pemimpin Perempuan

2 komentar: